Koma.id – Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) mengungkap temuan baru yang menyebut peristiwa kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus tidak sekadar penganiayaan, melainkan diduga kuat sebagai bagian dari percobaan pembunuhan terencana.
Pasalnya dalam laporannya, Tim Advokasi Untuk Demokrasi menyatakan bahwa aksi terhadap korban melibatkan jaringan aktor yang luas dan kompleks.
“Aksi percobaan pembunuhan terhadap korban AY (Andrie Yunus) melibatkan jaringan aktor yang besar, kompleks, dan sangat terencana, sehingga patut diduga bahwa para pelaku tidka hanya berencana mencelakai dan menganiaya, namun mencoba membunuh korban AY,” tulis TAUD dalam temuannya, dikutip Selasa (21/4/2026).
TAUD juga mengungkap bahwa sebelum insiden terjadi, Andrie Yunus sempat mengikuti kegiatan siniar di kantor YLBHI pada 12 Maret 2026. Informasi terkait kegiatan tersebut diduga telah bocor dan dimanfaatkan oleh pelaku untuk merancang aksi.
Dalam rekonstruksi yang disusun, TAUD menyebut adanya pembagian peran yang sistematis di antara para pelaku. Beberapa di antaranya diduga bertugas melakukan pengintaian di titik-titik yang minim pengawasan kamera, seperti Jalan Borobudur, Jalan Proklamasi, Jalan Salemba I, dan kawasan RPTRA Borobudur.
“Tiap pelaku memiliki tugas masing-masing. Kemungkinan besar, terdapat pelaku yang bertugas mengintai dari titik-titik tanpa akses kamera pengawas seperti Jalan Borobudur, Jalan Proklamasi, Jalan Salemba I, dan RPTRA Borobudur,” tulis TAUD.
Selain itu, TAUD meyakini adanya keterlibatan pihak sipil dalam rangkaian kejadian tersebut. Dugaan ini didasarkan pada rekaman video yang menunjukkan aktivitas sejumlah individu di lokasi kejadian.
Para individu tersebut disebut memiliki peran berbeda, mulai dari pemantauan lapangan dengan atribut ojek online, tim komunikasi yang aktif berkoordinasi, hingga pihak yang membantu mengamankan situasi di sekitar lokasi.
TAUD juga menyampaikan bahwa jumlah pelaku diduga lebih banyak dari yang telah diumumkan sebelumnya. Jika versi resmi menyebut empat orang, TAUD memperkirakan keterlibatan mencapai sedikitnya 16 orang dalam keseluruhan operasi.
Perwakilan TAUD, Muhammad Isnur, menegaskan adanya struktur komando dalam pelaksanaan aksi tersebut.
“Jadi ini bukan hanya empat, bukan hanya yang membuntuti dan menyerang (Andrie Yunus), tapi di lapangan tuh ada semacam koordinator lapangannya, ada semacam komandan lapangannya yang memerintahkan, yang instruksi, yang tarik, yang mundur, yang apapun itu semuanya ada,” kata perwakilan TAUD, Muhammad Isnur, dikutip.







