Koma.id– Seorang pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Purbalingga dipecat setelah unggahan status WhatsApp miliknya viral di media sosial. Dalam status tersebut, ia menyebut “rakyat jelata kurang bersyukur”, yang memicu reaksi keras publik setelah tersebar luas.
Menyusul polemik tersebut, yang bersangkutan menyampaikan permohonan maaf dan mengakui penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta berjanji menjadikannya sebagai pelajaran agar lebih bijak dalam berkomunikasi.
Koordinator Wilayah SPPI Kabupaten Purbalingga, Mei Sandra, membenarkan bahwa unggahan tersebut dibuat oleh relawan di salah satu SPPG di wilayahnya.
“Betul relawan tersebut dari salah satu SPPG di Kabupaten Purbalingga, yaitu SPPG Purbalingga Karangreja Tlahab Lor 1, Yayasan Samingah Mendidik Indonesia. Dibuat tanggal 15 Maret sekitar pukul 19.30 WIB,” ujar Mei dikutip.
Di sisi lain, persoalan lain mencuat dalam pelaksanaan program MBG. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, menerima aduan dari dua kepala SPPG asal Ponorogo saat kunjungan kerja di Blitar, Jawa Timur.
Keduanya mengaku mengalami tekanan dan intimidasi dari pihak yayasan yang mengelola SPPG dan mengklaim dimiliki oleh seorang cucu menteri. Selain dugaan intimidasi, yayasan tersebut juga disebut merekayasa anggaran pembelian bahan pangan, dari alokasi Rp10.000 per porsi hanya direalisasikan sekitar Rp6.500. Kondisi ini membuat para pengelola
“Dua kepala SPPG dari Ponorogo ini jauh-jauh datang ke Blitar untuk menemui saya karena minta perlindungan,” ujar Nanik dikutip.







