Koma.id | Jakarta – Usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Sutan Takdir Alisjahbana (STA) semakin menguat. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan dukungan terbuka dalam Seminar Nasional bertema Sutan Takdir Alisjahbana, Bahasa Indonesia, dan Cita-cita Kebangsaan di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Senin (29/6).
“Saya mendukung usulan agar Sutan Takdir Alisjahbana dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas jasa dan pengabdiannya yang luar biasa bagi pembentukan Indonesia modern,” ujar Fadli.
Menurut Fadli, STA adalah tokoh visioner yang meletakkan fondasi penting bagi pembangunan bangsa melalui tiga pilar utama yakni sejarah, kebudayaan, dan bahasa. Ia menekankan bahwa pemikiran STA tetap relevan di tengah perubahan global dan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial.
“Modernitas memberikan daya saing, sementara kebudayaan memberi arah dan identitas. Keduanya tidak untuk dipertentangkan, tetapi harus saling menguatkan,” tambahnya.
Jejak Kontribusi STA
Keteladanan Gubernur Ahmad Luthfi di Soekarno Run Disebut Budayawan Jadi Simbol Kepemimpinan Humanis
- Pelopor Bahasa Indonesia Modern: Merumuskan tata bahasa modern dan mendorong bahasa persatuan melalui majalah Pujangga Baru.
- Tokoh Sastra Pembaharu: Bersama Armijn Pane dan Amir Hamzah mendirikan angkatan Pujangga Baru. Karya fenomenalnya antara lain Layar Terkembang dan Dian yang Tak Kunjung Padam.
- Tokoh Pendidikan: Pendiri sekaligus rektor pertama Universitas Nasional (Unas) di Jakarta.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, juga telah menerbitkan surat rekomendasi resmi untuk mendukung gelar Pahlawan Nasional bagi STA. Surat tersebut menegaskan peran strategis STA dalam menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu, kebudayaan modern, persatuan, dan martabat bangsa.
Fadli mengingatkan bahwa pembangunan kebudayaan tidak cukup hanya melestarikan warisan masa lalu, tetapi juga harus menjadi sumber lahirnya inovasi dan daya saing bangsa. Ia mengajak masyarakat mengubah cara pandang dari Eropa-sentris menjadi Nusantara-sentris, sebagaimana pernah digagas STA pada dekade 1970-an.








