Koma.id | Tangerang – Hari Minggu biasanya menjadi waktu bagi sebagian orang untuk sekadar melepas penat di depan layar gawai. Namun, suasana berbeda terlihat di kawasan “Rumah Jeruk” Tangerang. Di sana, suara rendah riuh mesin jet yang membelah angkasa justru menjadi simfoni yang dinanti.
Di antara kerumunan para pemburu gambar pesawat, tampak seorang remaja bernama Sadewa Sampurno Hadi . Mengenakan pakaian santai, tangan begitu cekatan mengarahkan lensa mengikuti pergerakan burung besi yang hendak menyentuh landasan. Sadewa bukanlah orang baru di dunia literasi visual, ia adalah putra dari jurnalis senior, Aan Dwi Puantoro.
Bagi Sadewa, akhir pekan adalah waktunya memerdekakan hobi. Lokasi Rumah Orange yang bersisian langsung dengan landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta memberikan sudut pandang yang tak terbatas.

“Senang sekali bisa ada di sini. Pilihannya lebih banyak, pesawat yang lepas landas dan mendarat silih berganti tidak ada habisnya,” ujar Sadewa dengan binar mata antusias saat ditemui di sela-sela kegiatannya. Minggu (08/02).
Sebelumnya, Sadewa sempat menjajal jepretan pesawatnya di Bandara Halim Perdanakusuma. Namun demikian, atmosfer di Tangerang memberikan tantangan dan kepuasan yang berbeda.
Tak hanya sekedar memencet tombol rana, Sadewa seolah sedang menyamakan memori dan mengasah ketajaman rasa, warisan bakat dari sang ayah yang dikenal memiliki integritas dan ide kreatif mumpuni sebagai jurnalis TV nasional.
Bagi Aan Dwi Puantoro, menemani putra tercintanya bukan sekadar mengisi waktu luang. Ini adalah cara seorang ayah mendukung semangat sang anak, sekaligus memastikan bahwa “darah jurnalis” yang mengalir di tubuh Sadewa tetap tumbuh dengan cara yang menyenangkan.
Di bawah langit Tangerang yang biru, deru pesawat yang melintas bukan sekadar gangguan bagi Sadewa. Itu adalah panggilan untuk terus menangkap setiap momen yang berarti seperti prinsip yang selalu dipegang teguh oleh ayah, bahwa setiap jepretan harus ada artinya.








