Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Stop Drama Orang Hilang Paksa! KontraS Kurang Investigasi, Sekarang Bukan Zaman Represif

Views
×

Stop Drama Orang Hilang Paksa! KontraS Kurang Investigasi, Sekarang Bukan Zaman Represif

Sebarkan artikel ini
Stop Drama Orang Hilang Paksa! KontraS Kurang Investigasi, Sekarang Bukan Zaman Represif
Pengamat Sosial Universitas Indonesia sekaligus Direktur Eksekutif Puskamuda UI, Rissalwan Habdy Lubis. (Foto/Istimewa)

Koma.id Isu orang hilang yang ramai belakangan ini kembali menuai sorotan. Pengamat sosial Universitas Indonesia sekaligus Direktur Eksekutif Puskamuda UI, Rissalwan Habdy Lubis, mengingatkan publik untuk berhati-hati menyikapi narasi yang beredar agar tidak terjebak dalam propaganda.

Menurut Rissalwan, publik saat ini sulit mengetahui secara pasti apa yang terjadi di balik kasus orang hilang tersebut. Ia memandang ada kemungkinan skenario bahwa orang-orang itu sengaja dikondisikan seolah hilang untuk menciptakan ketakutan.

Silakan gulirkan ke bawah

“Kalau orangnya ternyata ditemukan di tempat lain, itu berarti mereka tidak benar-benar hilang, hanya dipindahkan atau dikondisikan seolah hilang untuk membuat publik resah,” ujarnya, Kamis (18/9).

Dua nama yang sempat dinyatakan hilang akhirnya berhasil ditemukan. Eko Purnomo, yang sebelumnya dilaporkan hilang oleh KontraS, ternyata kini berada di Kalimantan Tengah dan bekerja sebagai nelayan.

Sedangkan Bima Permana Putra yang disebut hilang sejak 31 Agustus 2025, ditemukan di Malang, Jawa Timur. Ia diketahui bekerja sebagai pedagang mainan di sebuah klenteng.

Mengingat hal tersebut, Rissalwan menilai KontraS kurang investigasi terkait orang hilang ini. “Cara berpikirnya masih era Munir, masih menganggap ini zaman represif. Saya tidak bilang KontraS ikut bermain, hanya investigasinya saja yang kurang,” tegasnya.

Masih ada dua orang lainnya yang belum diketahui keberadaannya, yakni Muhammad Farhan Hamid dan Reno Syaputradewo. Keduanya dilaporkan hilang sejak akhir Agustus lalu di sekitar kawasan Brimob Kwitang, Jakarta Pusat.

“Kalau merujuk temuan yang sudah ada maka sebaiknya kedua orang yang belum ditemukan segera menginformasikan keberadaan mereka. Publik kini ingin dapatkan fakta, bukan sekadar drama dengan narasi hilang-hilangan ini,” pungkas Rissalwan.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.