Koma.id | Jakarta – Suhu udara yang lebih dingin dari biasanya dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian warga Jakarta dan sekitarnya. Fenomena ini terjadi bersamaan dengan hujan deras dan banjir di sejumlah wilayah ibu kota, memunculkan spekulasi di masyarakat bahwa penyebabnya adalah fenomena astronomis Aphelion.
Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa cuaca dingin yang dirasakan masyarakat bukan disebabkan oleh Aphelion, melainkan oleh pengaruh Monsun Australia yang membawa udara kering ke wilayah selatan khatulistiwa, termasuk Pulau Jawa.
“Aphelion memang terjadi setiap tahun, tetapi hawa dingin yang sekarang lebih didominasi oleh udara kering dari Australia. Monsun Australia sifatnya lebih kering, sehingga malam hari terasa lebih dingin dan siang pun tidak sepanas biasanya,” ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.
BMKG menjelaskan bahwa Aphelion adalah fenomena astronomis ketika Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari dalam orbitnya. Namun karena bersifat global, dampaknya tidak akan terasa hanya di satu wilayah saja.
“Kalau memang Aphelion penyebabnya, seharusnya seluruh wilayah Bumi merasakan hal yang sama. Tapi faktanya tidak demikian,” tegas Ardhasena.
Perubahan Desil Ancam Akses Beasiswa KIP
Fenomena udara dingin ini juga dikenal secara lokal dengan istilah “mbediding” di kalangan masyarakat Jawa, yakni kondisi udara malam yang sangat dingin pada musim kemarau. Ardhasena menyebut bahwa ini adalah pola musiman yang umum terjadi setiap tahun. Sementara itu, warga Jakarta mengaku terkejut dengan perubahan suhu yang mendadak.
“Biasanya panas dan lembap, tapi sejak banjir ini, setiap malam rasanya seperti di Puncak. Saya sampai pakai selimut dua lapis,” kata Maulana (37), warga Duri Kosambi, Jakarta Barat, Selasa (08/07).
Hal serupa disampaikan Aldi (32), warga Rawa Buaya, yang rumahnya masih terdampak banjir. “Setelah hujan deras dan air naik, udaranya jadi beda. Dingin banget, apalagi pagi-pagi. Kayak suasana di Puncak, padahal lagi kebanjiran,” ujarnya.
BMKG juga menanggapi pesan berantai yang beredar di media sosial yang menyebut bahwa cuaca dingin disebabkan oleh Aphelion dan dapat memicu penyakit seperti flu, batuk, hingga sesak napas. BMKG menilai informasi tersebut menyesatkan dan tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Selain Jakarta, fenomena serupa juga dirasakan di wilayah Jabodetabek lainnya seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Bahkan, beberapa warga melaporkan munculnya kabut tipis yang tidak biasa, seperti yang terjadi di Depok pada Minggu (29/06) lalu.
“Depok yang biasanya panas jadi adem. Vibes-nya sendu karena berkabut. Jadi rasanya beda,” kata Angga (17), warga Depok.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Cuaca dingin yang terjadi saat ini merupakan bagian dari dinamika iklim musiman yang wajar terjadi di wilayah Indonesia bagian selatan.










