Koma.id– Seruan aksi off-bid massal oleh sejumlah komunitas pengemudi ojek online (ojol) dan taksi online yang dijadwalkan berlangsung pada 20 Mei 2025 mendatang mulai memunculkan reaksi beragam. Tidak semua mitra pengemudi merasa aksi ini mencerminkan aspirasi kolektif mereka.
Di tengah gencarnya ajakan untuk mematikan aplikasi secara serentak dan turun ke jalan, banyak pengemudi justru memilih tetap bekerja seperti biasa. Bagi mereka, menjaga penghasilan harian jauh lebih penting ketimbang ikut dalam aksi yang dinilai tidak jelas dampaknya.
“Saya menghargai teman-teman yang ingin menyuarakan aspirasi, tapi tidak semua dari kami bisa ikut turun ke jalan. Banyak dari kami harus tetap narik demi keluarga,” ujar Heri (35), pengemudi ojol asal Bekasi yang sudah lima tahun beroperasi di lapangan.
Kekhawatiran pun muncul dari para pengemudi yang merasa aksi ini justru berisiko merugikan mitra lain. Terlebih, muncul laporan mengenai adanya intimidasi dari oknum yang memaksa pengemudi untuk turut mematikan aplikasi.
“Saya nggak setuju kalau ada yang maksa-maksa. Itu bukan semangat komunitas kita. Kalau dipaksa, itu namanya intimidasi,” kata Almubarok (24), pengemudi taksol di wilayah Jakarta Timur.
Barok, sapaan akrabnya, juga menyebut bahwa aksi semacam ini sudah sering terjadi namun minim hasil.
“Sudah biasa tiap tahun ada yang ajak mogok. Tapi setelah aksi selesai, kita juga yang susah cari uang. Saya sih ogah ikut-ikutan,” tegasnya.
Sementara itu, Peneliti dari Centre for Islamic and Ethnic Studies (CIE), Muhammad Chaerul, turut angkat bicara. Menurutnya, aksi yang diklaim berskala nasional ini justru menyisakan pertanyaan besar benarkah ini jeritan tulus dari mayoritas mitra?
“Aksi ini lebih ramai di media sosial, tapi kosong di lapangan. Ini semacam perlawanan dari segelintir pihak yang tidak puas, lalu menganggap semua orang berada dalam situasi yang sama,” ujar Chaerul.







