Koma.id – Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 di Indonesia kembali menjadi sorotan tajam media asing, dengan keprihatinan yang berkembang terkait potensi dampaknya terhadap deforestasi. Laporan terbaru yang dimuat di surat kabar Filipina, BusinessWorld, dengan judul ‘Indonesia’s rainforest seen at risk from 2024 election handouts’, menyoroti tren yang mengejutkan ini.
Artikel tersebut mengungkapkan bahwa para politisi Indonesia saat ini tengah aktif mencari sumber dana kampanye dari dunia usaha, dengan imbalan akses yang lebih mudah ke sumber daya alam negara. Kritik pedas pun muncul, terutama terkait besarnya biaya kampanye dan minimnya pengawasan yang mengelilingi pengeluaran tersebut.
Sejumlah aktivis lingkungan mengemukakan keprihatinan mereka, merasa bahwa perlindungan terhadap hutan hujan Indonesia semakin goyah dalam konteks pemilu ini. Mereka menekankan bahwa peraturan ketat harus diterapkan untuk mencegah potensi penyalahgunaan sumber daya alam yang berharga.
Namun, bukan hanya aktivis yang mengeluarkan komentar kritis. Sejumlah analis asing pun turut memberikan pandangan mereka. Salah satunya adalah Ward Berenschot, seorang profesor antropologi politik komparatif di Universitas Amsterdam, yang menyatakan bahwa biaya kampanye dalam pemilu Indonesia sangat tinggi.
Menurutnya, situasi ini dapat memaksa para politisi untuk mencari sumber dana tambahan dari sektor-sektor yang memiliki kepentingan di bidang sumber daya alam.
Dalam konteks ini, perdebatan pun semakin memanas. Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak untuk memastikan integritas hutan hujan Indonesia terjaga, sementara di sisi lain, para politisi menghadapi tekanan finansial yang luar biasa untuk memenangkan pemilu.
Sebuah pertanyaan besar yang muncul adalah apakah langkah-langkah kontrol dan pengawasan yang lebih ketat akan diterapkan dalam pemilu mendatang, untuk menjaga keberlanjutan alam Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati.







