Koma.id, JAKARTA – Program pemerintah Bagi-bagi rice cooker gratis disorot Pengamat ekonomi energi UGM Fahmy Radhi. Menurutnya hal ini adalah program mubazir dan tidak efektif sama sekali. Ia menggangap alasan memberikan kontribusi energi bersih tidak signifikan dan kontribusinya kecil.
“Penghematan elpiji tiga kilogram dengan bagi-bagi rice cooker gratis berbeda dengan kompor listrik, sebab rice cooker hanya untuk menanak nasi, padahal memasak masih pakai elpiji tiga kilogram,” ujarnya, Sabtu (3/12/2022).
Jurnalis Republika Ditangkap Tentara Israel
Ia ingin sebelum ada uji coba Kementerian ESDM melakukan perhitungan yang matang. Pengurangan penyerapan listrik dengan memakai rice cooker tidak signifikan jika bertujuan untuk mengatasi over supply listrik.
Ia tidak menampik belum melakukan survei tetapi punya dugaan masyarakat penerima manfaat sebagian besar punya rice cooker sehingga duplikasi anggaran menjadi mubazir.
“Sebagian besar sudah punya kenapa harus dibagi-bagi, jangan-jangan ini proyek perusahaan untuk dibagi-bagi,” ucapnya.
Fahmy mendorong pemerintah menghitung sebelum melakukan uji coba bagi-bagi rice cooker gratis, seberapa banyak bisa menyerap tambahan listrik dan jika perlu mengadakan survei untuk memastikan tidak ada duplikasi.
“Jadi tolong dihitung secara matang, kalau tidak PHP saja, seperti kompor listrik dan Mypertamina, supaya kesan masyarakat terhadap pemerintah tidak PHP,” tuturnya.
Sebelumnya, Rencana pemerintah bagi-bagi 680.000 rice cooker atau penanak nasi listrik dengan anggaran Rp340 miliar mendapat dukungan dari Komisi VII DPR. Bahkan, Wakil Ketua Komisi VII DPR Fraksi PAN Eddy Soeparno mendorong uji coba pemberian penanak nasi listrik gratis segera dilakukan.
Wacana pemberian rice cooker ini ditujukan untuk rumah tangga dengan daya listrik 450 dan 900 VA berdasarkan data Kementerian Sosial. Sementara, distribusi rencananya dilakukan Kementerian ESDM.
Wacana bagi-bagi rice cooker gratis ini berkaitan dengan pengurangan penggunaan elpiji tiga kilogram, sehingga bisa menghemat subsidi Rp52,2 miliar.







