Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ragam

Nanik S Deyang: Antara Kepercayaan, Kontroversi, dan Ujian Besar di Badan Gizi Nasional

Views
×

Nanik S Deyang: Antara Kepercayaan, Kontroversi, dan Ujian Besar di Badan Gizi Nasional

Sebarkan artikel ini
Nanik S Deyang
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang. (Foto/Istimewa)

KOMA.ID, JAKARTA – Tidak banyak figur publik yang memiliki perjalanan karier seberagam Nanik Sudaryati Deyang. Ia pernah menjadi wartawan, pimpinan media, aktivis sosial, tokoh politik, komisaris BUMN, hingga kini dipercaya memimpin salah satu program paling ambisius dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Penunjukannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional bukan sekadar pergantian pejabat biasa. Jabatan tersebut kini menjadi salah satu posisi paling strategis sekaligus paling berisiko dalam pemerintahan. Di tangan lembaga inilah mengalir anggaran ratusan triliun rupiah yang menopang Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah program unggulan yang diproyeksikan menjangkau puluhan juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Silakan gulirkan ke bawah

Karena itu, memahami sosok Nanik tidak cukup hanya melalui daftar jabatan yang pernah diembannya. Publik perlu melihatnya secara utuh: pendidikan, rekam jejak profesional, capaian, kontroversi, hingga tantangan yang kini berada di pundaknya.

Tumbuh dari Dunia Kampus dan Ruang Redaksi

Nanik merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman. Pendidikan tersebut menjadi fondasi awal yang membentuk perspektifnya terhadap isu-isu sosial, politik, dan pembangunan masyarakat.

Karier profesionalnya dimulai dari dunia jurnalistik. Ia dikenal sebagai wartawan yang kemudian berkembang menjadi pengelola media. Pengalaman panjang di ruang redaksi memberinya kemampuan membaca dinamika sosial dan politik secara langsung dari lapangan.

Bagi banyak jurnalis generasinya, profesi wartawan bukan sekadar pekerjaan, melainkan sekolah kehidupan. Di sanalah seseorang belajar memverifikasi informasi, mendengar berbagai sudut pandang, memahami persoalan masyarakat, sekaligus mempertanggungjawabkan setiap informasi yang disampaikan kepada publik.

Pengalaman tersebut menjadi modal yang kemudian membawanya masuk ke ruang-ruang pengambilan keputusan yang lebih besar.

Dari Media ke Politik

Nama Nanik S Deyang mulai dikenal luas di tingkat nasional ketika aktif dalam tim pemenangan Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden 2019.

Peran itu menandai transformasinya dari figur media menjadi figur politik yang berada dekat dengan pusat kekuasaan. Setelah pemerintahan Prabowo terbentuk, kepercayaan terhadap dirinya terus meningkat.

Ia memperoleh sejumlah posisi strategis, mulai dari keterlibatan dalam program pengentasan kemiskinan, menjadi Komisaris Independen di lingkungan BUMN energi, hingga akhirnya dipercaya sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional.

Karier tersebut menunjukkan bahwa Nanik tidak hanya dipandang sebagai komunikator politik, tetapi juga sebagai sosok yang dinilai mampu mengelola organisasi dan program berskala nasional.

Bayang-Bayang Kasus Ratna Sarumpaet

Namun perjalanan Nanik tidak hanya diwarnai oleh capaian.

Namanya pernah menjadi perhatian nasional dalam kasus hoaks yang melibatkan Ratna Sarumpaet pada tahun 2018.

Saat itu Ratna mengaku menjadi korban penganiayaan. Informasi tersebut kemudian menyebar luas dan menjadi isu politik nasional. Belakangan terungkap bahwa cerita penganiayaan tersebut tidak benar.

Ratna Sarumpaet Fadli1
Ratna Sarumpaet dengan kondisi wajah penuh lebam bertemu Fadli Zon. Kala itu Ratna mengaku dipukuli orang tak dikenal, padahal hasil operasi wajah di sebuah klinik estetika di bilangan Jakarta Pusat.

Dalam berbagai pemberitaan dan proses hukum yang berlangsung, Nanik disebut sebagai salah satu pihak yang menerima cerita dari Ratna dan meneruskannya kepada lingkungan tim pemenangan Prabowo. Namanya bahkan beberapa kali disebut dalam persidangan sebagai bagian dari rantai penyebaran informasi yang ternyata tidak sesuai fakta.

Meski demikian, penting dicatat bahwa Nanik bukan pihak yang menjadi terdakwa dalam perkara tersebut. Posisinya lebih banyak dibahas sebagai saksi yang mengetahui alur penyebaran informasi sebelum kebohongan Ratna terbongkar.

Namun secara politik dan reputasional, peristiwa itu tetap menjadi catatan penting dalam perjalanan kariernya.

Kasus tersebut menghadirkan pertanyaan yang masih relevan hingga kini: bagaimana seorang mantan wartawan yang dibentuk oleh budaya verifikasi informasi bisa ikut berada dalam pusaran salah satu hoaks politik terbesar pada masa itu?

Pertanyaan itu mungkin tidak pernah sepenuhnya hilang dari ingatan publik.

Kepercayaan yang Terus Datang

Menariknya, kontroversi tersebut tidak menghentikan perjalanan karier Nanik.

Sebaliknya, ia terus memperoleh kepercayaan untuk menempati posisi-posisi strategis.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam penilaian para pengambil keputusan di pemerintahan, rekam jejak Nanik tidak hanya dilihat dari satu episode kontroversial, melainkan dari keseluruhan pengalaman dan kontribusinya selama puluhan tahun.

Kepercayaan politik yang terus diberikan kepadanya menjadi indikasi bahwa ia dianggap memiliki kapasitas manajerial, kemampuan membangun jaringan kerja, serta loyalitas terhadap agenda pemerintahan.

Namun kepercayaan politik dan kemampuan teknokratis adalah dua hal yang berbeda.

Dan di sinilah tantangan terbesar Nanik dimulai.

Ujian Sesungguhnya Bernama Badan Gizi Nasional

Jika jabatan-jabatan sebelumnya lebih banyak berkaitan dengan koordinasi, komunikasi, atau pengawasan, maka memimpin Badan Gizi Nasional menuntut kemampuan yang jauh lebih kompleks.

Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya program bantuan sosial.

Ia adalah operasi logistik nasional yang melibatkan rantai pasok pangan, pengadaan barang dan jasa, keamanan pangan, pengawasan kualitas makanan, distribusi lintas wilayah, pengelolaan sumber daya manusia, hingga tata kelola anggaran yang sangat besar.

Kesalahan kecil dalam sistem dapat berdampak pada jutaan penerima manfaat.

Keterlambatan distribusi, kualitas makanan yang buruk, masalah keamanan pangan, dugaan korupsi pengadaan, hingga konflik kepentingan dalam penunjukan vendor merupakan risiko yang selalu mengintai program sebesar ini.

Karena itu, ukuran keberhasilan Kepala Badan Gizi Nasional tidak akan ditentukan oleh kemampuan berbicara di depan publik atau kedekatan dengan elite politik.

Ukuran keberhasilannya akan ditentukan oleh tiga hal yang jauh lebih konkret:

Pertama, integritas tata kelola.

Publik akan melihat apakah anggaran yang sangat besar benar-benar dikelola secara transparan, akuntabel, dan bebas dari praktik penyimpangan.

Kedua, efektivitas program.

Masyarakat akan menilai apakah program ini benar-benar memperbaiki status gizi anak Indonesia atau hanya menjadi proyek birokrasi yang mahal.

Ketiga, kemampuan menghadapi kritik.

Program sebesar MBG hampir pasti akan menghadapi berbagai persoalan di lapangan. Respons terhadap masalah dan keterbukaan terhadap evaluasi akan menjadi indikator penting kepemimpinan Nanik.

Barometer Baru

Pada akhirnya, Nanik S Deyang adalah sosok yang membawa dua wajah sekaligus dalam persepsi publik.

Di satu sisi, ia adalah figur yang berulang kali mendapatkan kepercayaan negara untuk mengemban tugas-tugas penting. Rekam jejaknya menunjukkan kemampuan bertahan dan beradaptasi di berbagai bidang, mulai dari media, politik, hingga birokrasi.

Di sisi lain, ia juga membawa beban sejarah berupa kontroversi yang membuat publik berhak bersikap kritis terhadap setiap kebijakan yang dipimpinnya.

Karena itu, jabatan Kepala Badan Gizi Nasional bukan sekadar puncak karier bagi Nanik.

Posisi tersebut adalah ujian publik terbesar dalam hidupnya.

Jika berhasil menghadirkan tata kelola yang bersih, transparan, dan mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat, maka namanya akan dikenang sebagai salah satu arsitek pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Namun jika program yang dikelolanya tersandung masalah integritas atau gagal mencapai tujuan yang dijanjikan, maka seluruh rekam jejak panjang yang telah dibangun selama puluhan tahun akan ikut dipertaruhkan.

Di titik inilah Nanik S Deyang tidak lagi dinilai dari siapa dirinya di masa lalu, melainkan dari apa yang mampu ia buktikan hari ini.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.