Koma.id, PARIAMAN — Masa lalu yang kelam bukan akhir dari segalanya. Prinsip inilah yang dibuktikan lima pemuda di Kota Pariaman, Sumatera Barat.
Sempat berhadapan dengan hukum saat usia remaja, kelimanya kini berhasil mengubah garis hidup dengan menjadi prajurit TNI.
Setelah menjalani pembinaan di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Kota Pariaman, mereka sukses lulus menjadi Bintara TNI.
Bahkan, satu di antaranya berhasil menembus satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Ketua RPSA Kota Pariaman, Fatmiyeti Kahar, mengungkapkan rasa bangga yang mendalam atas pencapaian anak-anak didiknya tersebut.
Lembaga yang dipimpinnya kini memetik buah manis dari kesabaran mendampingi para remaja yang sempat kehilangan arah.
“Terakhir baru-baru ini ada dua anak lagi yang lulus menjadi Bintara TNI. Sebelumnya sudah ada tiga orang yang lebih dulu lulus,” ujar Fatmiyeti, Jumat (29/5/2026).
Fatmiyeti menjelaskan, seluruh pemuda tersebut merupakan mantan anak binaan RPSA yang memiliki rekam jejak berhadapan dengan hukum ketika masih remaja.
Namun, alih-alih terpuruk oleh stigma, mereka memilih untuk bangkit dan menata ulang masa depan.
Menurutnya, kunci utama dari perubahan ini adalah kepercayaan dan ruang untuk memperbaiki diri.
“Saya selalu percaya anak-anak ini sebenarnya punya potensi besar. Mereka hanya pernah salah langkah saat remaja,” tuturnya.
Dari tiga lulusan pertama, salah satu capaian yang paling fenomenal ditorehkan oleh Deni, seorang pemuda asal Desa Jawi-Jawi, Kota Pariaman.
Usai resmi menyandang status sebagai prajurit TNI, Deni melanjutkan perjuangannya hingga berhasil bergabung dalam komando pasukan elite Kopassus.
Fatmiyeti mengaku tak kuasa menahan haru saat Deni menghubunginya secara langsung untuk mengabarkan berita gembira tersebut.
“Deni mengajak saya hadir dalam prosesi pelantikannya nanti. Itu kebanggaan luar biasa bagi saya. Anak yang dulu pernah dibina karena berhadapan dengan hukum, sekarang menjadi anggota Kopassus,” kata Fatmiyeti dengan suara bergetar haru.
Keberhasilan kelima pemuda ini sekaligus menjadi masukan bagi stigma negatif yang kerap melekat pada Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH).
Fatmiyeti tak menampik bahwa pandangan miring dari masyarakat masih menjadi tantangan berat bagi pemulihan psikologis dan sosial anak-anak binaan.
Padahal, jika diberikan pendampingan yang tepat dan hak yang sama, mereka memiliki peluang yang setara untuk merajut kesuksesan.
“Siapa bilang anak berhadapan dengan hukum tidak bisa sukses dan melanjutkan pendidikan? Mereka bisa berhasil kalau berani mengambil keputusan untuk berubah,” tegasnya.
Melalui kisah inspiratif kelima anak binaannya, Fatmiyeti berharap masyarakat dapat membuka mata dan memberikan kesempatan kedua bagi remaja yang pernah khilaf.
Ia juga berpesan kepada para remaja lain yang sedang berjuang agar tidak menyerah pada keadaan.
“Masa lalu bukan penentu masa depan. Yang penting ada kemauan untuk bangkit dan memperbaiki hidup,” tuturnya.
Sumber : Kompas.com







