Koma.id | Jakarta – Indonesia bersiap menghadapi ancaman fenomena iklim “Godzilla El Nino” yang diprediksi akan memicu kekeringan ekstrem di berbagai wilayah tanah air. Berdasarkan pemantauan data satelit dan pemodelan iklim terbaru, periode kritis ini diperkirakan berlangsung mulai April hingga Oktober 2026.
Istilah “Godzilla El Nino” merujuk pada intensitas fenomena El Nino yang luar biasa kuat, yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut yang signifikan di Samudra Pasifik. Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan curah hujan secara drastis di wilayah Indonesia.
Puncak Kekeringan dan Wilayah Terdampak
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini agar pemerintah daerah dan masyarakat mewaspadai dampak akumulatif dari cuaca panas ini. Beberapa poin utama yang menjadi sorotan antara lain:
- Durasi Panjang: Kekeringan diprediksi akan mencapai puncaknya pada periode Juli hingga September, dengan curah hujan di bawah normal (deret hari tanpa hujan yang panjang).
- Prioritas Wilayah: Sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian wilayah Sumatera dan Sulawesi diprediksi menjadi wilayah yang paling berdampak pada kekeringan ekstrem.
- Ancaman Karhutla: Penurunan kelembapan udara meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), terutama di zona rawan gambut.
DPR RI Dorong Kepastian Kerja PPPK
Merespons potensi bencana kekeringan ini, pemerintah melalui kementerian terkait mulai menyiapkan langkah-langkah mitigasi strategi:
- Ketahanan Pangan: Kementerian Pertanian mulai melakukan pemetaan lahan pertanian yang rawan puso (gagal panen) serta mempercepat distribusi pompa air di sentra-sentra produksi padi.
- Manajemen Air: Direktorat Jenderal Sumber Daya Pengelolaan bendungan dan waduk untuk menjaga cadangan air guna memastikan pasokan irigasi dan air bersih tetap terjaga hingga akhir tahun.
- Satgas Karhutla: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyiagakan personel dan helikopter water bombing di titik-titik yang terdeteksi memiliki jumlah hotspot (titik panas) tinggi.
Masyarakat diimbau untuk menggunakan udara secara bijak, menghindari aktivitas pembakaran sampah atau lahan secara terbuka, serta terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG.








