Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
EkonomiInternasionalPolitik

Rupiah Melemah di Tengah Eskalasi Perang AS–Israel Meluas ke Lebanon, Harga Minyak Naik Tajam

Views
×

Rupiah Melemah di Tengah Eskalasi Perang AS–Israel Meluas ke Lebanon, Harga Minyak Naik Tajam

Sebarkan artikel ini
Rupiah Melemah di Tengah Eskalasi Perang AS–Israel Meluas ke Lebanon, Harga Minyak Naik Tajam

Koma.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa (03/03). Rupiah terkoreksi 4 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp16.872 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.868 per dolar AS. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan ke level Rp16.870 per dolar AS dari Rp16.848 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang kini meluas hingga Lebanon.

Silakan gulirkan ke bawah

“Perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas dengan Israel menyerang Lebanon dan Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk serta kapal tanker di Selat Hormuz,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Kapal tanker dan kapal kontainer dilaporkan menghindari jalur Selat Hormuz setelah sejumlah perusahaan asuransi membatalkan pertanggungan. Kondisi ini memicu lonjakan tarif pengiriman minyak dan gas global. Garda Revolusi Iran bahkan menyatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan akan menembak kapal yang mencoba melintas.

“Sekitar 20 persen minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz,” kata Ibrahim.

Harga minyak mentah dunia pun melonjak tajam. Minyak Brent naik 7,14 persen ke level USD78,07 per barel, sementara WTI menguat 0,15 persen ke USD71,33 per barel. Analis memperingatkan harga Brent berpotensi menembus USD100 jika gangguan pasokan berlangsung lama.

Di tengah tekanan eksternal, data ekonomi domestik menunjukkan kinerja positif. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar USD0,95 miliar. Surplus ini memperpanjang tren positif selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD3,22 miliar.

Bursa saham Asia pagi ini dibuka melemah. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok hampir 2 persen, Nikkei 225 Jepang turun 1,19 persen, dan ASX 200 Australia merosot 0,90 persen. IHSG diperkirakan masih menghadapi tekanan ke bawah level 8.000 setelah sebelumnya terperosok 2,66 persen ke 8.016,83.

Di Wall Street, perdagangan saham berlangsung volatil. Dow Jones Industrial Average turun 0,15 persen, sementara S&P 500 naik tipis 0,04 persen dan Nasdaq Composite menguat 0,36 persen. Saham energi melonjak seiring kenaikan harga minyak, sementara saham maskapai dan pelayaran tertekan.

Bursa Eropa juga ditutup melemah tajam. Indeks STOXX 600 anjlok 1,65 persen, DAX Jerman turun 2,42 persen, FTSE 100 Inggris merosot 1,20 persen, dan CAC Prancis jatuh 2,17 persen. Harga gas alam Eropa melonjak hingga 50 persen setelah QatarEnergy menghentikan produksi LNG.

Indeks Dolar AS (DXY) naik 0,31 persen ke 98,37, didorong permintaan aset aman. Harga emas di bursa berjangka AS juga menguat lebih dari 2 persen sebelum terkoreksi akibat aksi ambil untung. Franc Swiss melonjak ke level tertinggi terhadap euro dalam satu dekade, memicu kesiapan intervensi dari bank sentral Swiss.

Eskalasi konflik Timur Tengah yang meluas tanpa tanda-tanda mereda diperkirakan akan terus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sekaligus meningkatkan volatilitas pasar global dalam beberapa pekan ke depan.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.