Koma.id — Pengamat politik Said Didu ungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan langkah reformasi menyeluruh terhadap Kepolisian Republik Indonesia (Polri), bukan sekadar pergantian Kapolri.
Hal itu diungkapkan Said Didu usai pertemuan tertutup dengan Presiden. Menurut Said, pembahasan reformasi Polri menjadi salah satu agenda utama dalam diskusi tersebut.
Said Didu menyebut, setelah pertemuan itu ia bahkan berdiskusi lebih lanjut bersama orang kepercayaan Presiden untuk membedah langkah-langkah reformasi yang akan ditempuh.
Meski tidak merinci detail rencana, ia menegaskan Prabowo tidak ingin menyelesaikan persoalan Polri secara parsial.
“Kalau hanya sekadar mengganti Kapolri, itu sudah berkali-kali dilakukan. Tapi masalahnya tidak selesai,” ujarnya, dikutip (17/2/2026).
Bukan Tambal Sulam
Menurut Said Didu, Presiden melihat persoalan di tubuh Polri bersifat struktural dan berulang. Pergantian pimpinan dinilai hanya bersifat kosmetik jika tidak disertai perubahan sistemik.
Ia mengindikasikan Prabowo tengah menyiapkan formula penyelesaian yang berbeda dari pola sebelumnya, bahkan bisa jadi berbeda dari aturan atau pendekatan yang selama ini digunakan.
“Bukan tambal sulam. Kalau tidak diselesaikan tuntas, beberapa tahun lagi bisa terulang lagi,” katanya.
Said Didu, yang pernah lama berkecimpung di Komisi III DPR, mengklaim identifikasi Presiden terhadap persoalan Polri cukup tajam dan menyeluruh.
Reformasi atau Retorika?
Wacana reformasi Polri bukan hal baru. Sejak era Reformasi 1998, isu pembenahan institusi penegak hukum terus bergulir, terutama menyangkut profesionalisme, akuntabilitas, dan kepercayaan publik.
Namun, tantangannya selalu sama: apakah reformasi benar-benar menyentuh akar masalah, atau berhenti pada pergantian figur dan penyesuaian administratif?
Said Didu meminta publik bersabar menunggu langkah konkret Presiden. Menurutnya, Prabowo tidak ingin solusi jangka pendek yang hanya mendaur ulang masalah.
Kini sorotan publik tertuju pada satu hal: apakah reformasi total yang dimaksud akan benar-benar membongkar persoalan struktural, atau kembali menjadi wacana yang menguap seiring waktu?













