Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaDaerahRagam

Mengenal Kapten Andy Dahananto, Pilot Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Sulsel

Views
×

Mengenal Kapten Andy Dahananto, Pilot Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Sulsel

Sebarkan artikel ini
Mengenal Kapten Andy Dahananto, Pilot Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Sulsel

Koma.id | Jakarta – Karangan bunga belasungkawa menghiasi rumah duka Kapten Andy Dahananto, pilot pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang mengalami kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

Kapten Andy diketahui merupakan warga Perumahan PWS RT 06/03 Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Selain menjadi pilot senior, Andy juga menjabat sebagai Direktur Operasi Indonesia Air Transport. Ia diduga menjadi salah satu korban bersama enam kru pesawat lainnya, termasuk copilot Muhammad Farhan Gunawan, kru Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita.

Silakan gulirkan ke bawah

Ketua RT setempat, Franciscus Nasir, mengenang Andy sebagai sosok ramah dan peduli lingkungan.

“Beliau adalah kepala keluarga yang ramah, tegas, dan sosial. Sering membantu masyarakat ketika ada kesulitan,” ujarnya. Andy telah tinggal di kawasan tersebut selama 30 tahun.

Andy merupakan lulusan Juanda Flying School tahun 1987 dan memulai karier sebagai pilot pada 1988. Ia lahir pada 1967 dan tercatat memiliki seorang istri serta dua anak. Salah satu anaknya mengikuti jejak sang ayah sebagai pilot.

Sebelum insiden, Andy sempat aktif di media sosial. Pada 17 Desember 2025, ia mengunggah foto selfie dengan seragam patroli udara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Andy memang tercatat sebagai kapten dalam misi air surveillance KKP.

Pesawat ATR 42-500 dengan rute Yogyakarta–Makassar hilang kontak sekitar pukul 13.17 WITA, Sabtu (17/01). Informasi awal diterima dari AirNav Indonesia dan langsung ditindaklanjuti Basarnas. Posisi terakhir pesawat diperkirakan berada di kawasan karst Leang-Leang, Maros–Pangkep.

Kementerian Perhubungan menyebut pesawat sempat keluar dari jalur pendekatan Bandara Hasanuddin. Air Traffic Control (ATC) memberi arahan koreksi posisi, namun komunikasi mendadak terputus. ATC kemudian mendeklarasikan fase darurat DETRESFA.

Basarnas Makassar mengerahkan tim gabungan untuk menyisir lokasi dengan medan pegunungan terjal dan cuaca buruk. Kabut tebal dan hujan menjadi kendala utama. Hingga Minggu (18/01), dua jenazah korban berhasil dievakuasi, sementara pencarian puing pesawat terus dilakukan.

Berdasarkan data manifes, pesawat membawa total 11 orang, terdiri dari delapan kru dan tiga penumpang.

Kru Pesawat:

  • Kapten Andy Dahananto
  • First Officer Yudha Mahardika
  • Sukardi
  • Hariadi
  • Franky D. Tanamal
  • Junaidi
  • Florencia Lolita
  • Esther Aprilita S.

Penumpang:

  • Deden
  • Ferry
  • Yoga

Operasi pencarian dan pertolongan masih berlangsung dengan melibatkan Basarnas, TNI, Polri, AirNav Indonesia, serta Kementerian Perhubungan. Pemerintah menegaskan koordinasi lintas lembaga dilakukan untuk memastikan transparansi informasi dan percepatan penanganan.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.