Koma.id– Relawan pendukung mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut etika dan kesantunan sebagai alasan utama mengapa Jokowi tidak pernah menyebut nama secara gamblang terkait sosok yang diduga sebagai dalang di balik tudingan ijazah palsu yang menerpanya pasca-lengser.
Meski demikian, relawan tersebut menegaskan bahwa Jokowi telah memiliki informasi valid mengenai keberadaan “orang besar” penggerak isu yang telah berlarut-larut ini.
“Makanya beliau hanya menyampaikan bahwa kenapa kasus tudingan itu sudah bertahun-tahun, lintas tahun dan justru semakin hari semakin membesar ya,” tutur David melansir kanal YouTube KompasTV.
David menilai, kepercayaan diri para tersangka dalam laporan hukum Jokowi, seperti Roy Suryo, Rismon Hasiholan Sianipar, dan Tifauzia Tyassuma, didukung oleh kekuatan besar di belakang mereka.
“Bahkan orang-orang yang sudah ditersangkakan ini kan semakin percaya diri ya, justru dalam posisi mereka tersangka itu,” kata David.
Ia kemudian mengaitkan dugaan tersebut dengan Partai Demokrat, dimana Roy Suryo sebagai mantan kader partai tersebut, serta menyoroti pernyataan Waketum Demokrat Benny K. Harman dan peran Denny Indrayana yang membela Roy Suryo di ranah hukum.
“Kemudian, ada Denny Indrayana yang melakukan pembelaan. Semuanya, hal-hal seperti ini, itu menjadi satu kesatuan,” tuturnya.
Sebelumnya, Jokowi sendiri telah dua kali secara terbuka menyebut adanya “orang besar” dan “agenda politik” di balik isu ijazah palsu S1-nya dari UGM, yakni pada Juli dan Desember 2025. Dalam pernyataan terakhirnya, Jokowi menyatakan yakin ada dalang, namun mempersilakan publik menebak sendiri identitasnya.
Dugaan adanya orkestrasi dari pihak tertentu juga pernah dilontarkan oleh sejumlah loyalis Jokowi lainnya, seperti Sekjen Peradi Bersatu Ade Darmawan yang memberikan clue “baju biru”, serta Ketua Umum Solidaritas Merah Putih Silfester Matutina yang menyebut para pelapor hanya “pion”.











