Koma.id– Wacana mengenai mobil nasional buatan Indonesia kembali mencuat usai disinggung langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna yang digelar bertepatan dengan satu tahun pemerintahannya.
Menanggapi hal itu, Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah tersebut. Ia menyebut industri otomotif siap menyambut kebijakan baru ini selama pemerintah menyiapkan regulasi dan persyaratan teknis yang jelas.
Sementara itu, sejumlah pengamat otomotif seperti Yannes Martinus Pasaribu, Ridwan Hanif, dan Bebin Djuana mengingatkan agar pemerintah berhati-hati dalam mewujudkan proyek mobil nasional agar tidak mengulangi kegagalan masa lalu.
Menurut Yannes, keberhasilan proyek mobil nasional akan bergantung pada kemandirian teknologi, keberlanjutan industri komponen lokal, dan strategi pemasaran yang realistis. Ridwan Hanif menilai pentingnya pemerintah memastikan daya saing harga dan kualitas kendaraan agar tidak kalah dari merek global yang sudah mapan di pasar domestik.
Sementara Bebin Djuana menekankan bahwa proyek ini harus berbasis riset dan pengembangan yang kuat, bukan sekadar proyek politik atau kebanggaan simbolik.
Sebagai catatan, Indonesia pernah meluncurkan beberapa proyek mobil nasional seperti Morina (Mobil Rakyat Indonesia), Maleo, Timor (Teknologi Industri Mobil Rakyat), dan Bimantara. Namun, seluruhnya kandas karena berbagai faktor, mulai dari masalah pendanaan, ketergantungan teknologi asing, hingga dinamika politik dan ekonomi global.







