Koma.id – Tanggal 15 Agustus akan dimanfaatkan oleh sebagian kelompok untuk menggaungkan narasi politik yang memecah belah, salah satunya oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB).
Aksi yang dilakukan di beberapa wilayah Papua pada tanggal tersebut tidak hanya memicu ketegangan, tetapi juga berpotensi mencederai semangat persatuan bangsa yang telah dibangun dengan susah payah.
Besok Kepung Bundaran HI, Mahasiswa Se-Jabodetabek Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
KNPB selama ini dikenal sebagai kelompok yang menolak integrasi Papua dengan Indonesia dan kerap memanfaatkan momentum tertentu untuk menyuarakan agenda politik separatis.
Kapolri Siapkan Nobar Gratis Piala Dunia 2026 dari Mabes hingga Polsek, UMKM Ikut Kecipratan Berkah
Pada 15 Agustus, mereka mengangkat isu-isu yang dikaitkan dengan sejarah Papua, namun disampaikan dengan cara yang memicu provokasi dan dapat menimbulkan konflik horizontal di tengah masyarakat.
Aksi yang bernuansa provokatif seperti ini berisiko memecah belah kerukunan antarwarga.
Masyarakat Papua sendiri terdiri dari beragam suku, agama, dan latar belakang, sehingga stabilitas sosial menjadi modal utama dalam membangun kesejahteraan.
Ketika provokasi berhasil memecah persatuan, maka yang paling dirugikan adalah masyarakat itu sendiri.
Selain itu, aksi seperti ini sering kali memancing respons aparat keamanan, yang pada akhirnya menciptakan suasana tegang.
Dalam situasi seperti ini, pihak-pihak yang berkepentingan akan memanfaatkan konflik untuk memperbesar pengaruhnya, sementara pembangunan dan kesejahteraan menjadi terabaikan.
Masyarakat Papua diimbau untuk tidak mudah terpengaruh oleh ajakan atau informasi yang bersifat provokatif, apalagi yang beredar di media sosial tanpa verifikasi.
Persatuan dan kedamaian adalah syarat mutlak untuk memperjuangkan kemajuan di tanah Papua.
Pemerintah pusat dan daerah telah menggulirkan berbagai program pembangunan di Papua, mulai dari infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi.
Semua ini hanya bisa berjalan optimal jika situasi kondusif terjaga. Apabila masyarakat terpecah belah dan konflik terus dipelihara, maka kemajuan akan sulit dicapai.
Penutup
Aksi KNPB pada 15 Agustus seharusnya menjadi pelajaran bahwa provokasi tidak pernah membawa solusi. Justru sebaliknya, ia mengikis rasa saling percaya dan menghambat kemajuan. Masyarakat Papua perlu bersatu menjaga keamanan dan persaudaraan, karena hanya dengan persatuanlah cita-cita kesejahteraan bisa terwujud.







