Koma.id – Belakangan ini publik dihebohkan oleh aksi pengibaran bendera bergambar bajak laut dari serial One Piece di berbagai kegiatan, termasuk momen-momen yang seharusnya sakral seperti perayaan kemerdekaan.
Sekilas, ini mungkin terlihat sebagai candaan atau bentuk kreativitas penggemar budaya pop.
Namun, di baliknya, muncul dugaan bahwa fenomena ini ikut ditunggangi diduga oleh kelompok berideologi khilafah, khususnya jaringan eks-Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Bendera “Jolly Roger” dalam One Piece dikenal luas sebagai simbol fiksi bajak laut. Namun, kelompok khilafah cenderung memanfaatkan simbol-simbol non-negara seperti ini untuk ‘mendegradasi’ makna Bendera Merah Putih di ruang publik.
Pola yang digunakan adalah symbolic substitution — mengganti atau mendampingi simbol negara dengan simbol lain demi membiasakan publik bahwa lambang resmi bisa dipinggirkan.
Di beberapa kasus, narasi yang disisipkan adalah bahwa “kebebasan sejati” atau “identitas baru” tidak harus mengikuti simbol negara, melainkan bisa diwakili oleh simbol komunitas tertentu — yang ujungnya diarahkan ke simbol ideologi khilafah.
Strategi eks HTI: Infiltrasi Lewat Budaya Pop
Eks HTI dan simpatisannya dikenal adaptif dalam menggunakan media populer untuk masuk ke segmen anak muda.
Mereka memanfaatkan fandom, musik, olahraga, hingga anime sebagai medium membangun jaringan. Fenomena bendera One Piece menjadi celah yang efektif:
- Non-politis di permukaan, sehingga tidak langsung memicu penolakan keras.
- Mengumpulkan massa muda di ruang publik tanpa terdeteksi agenda ideologis.
Bahaya yang Mengintai
- Erosi Nasionalisme – Menggeser simbol negara di acara resmi mengikis rasa hormat dan identitas kebangsaan.
- Normalisasi Simbol Alternatif – Masyarakat terbiasa melihat bendera non-negara di momen penting, yang membuka jalan bagi simbol ideologi tertentu.
- Tahap Awal Radikalisasi – Simbol adalah pintu masuk untuk membentuk komunitas tertutup yang kemudian diarahkan ke doktrin khilafah.
Fenomena ini tidak bisa dianggap remeh. Pemerintah, aparat, dan masyarakat perlu:
- Menegakkan aturan penggunaan simbol negara di momen resmi.
- Meningkatkan literasi kebangsaan, khususnya pada generasi muda.
- Mengawasi ruang publik agar tidak menjadi arena infiltrasi ideologi terlarang.
Bendera Merah Putih adalah lambang kedaulatan dan pengorbanan para pahlawan bangsa. Menggantinya dengan simbol fiksi di momen sakral seperti perayaan kemerdekaan bukan hanya tindakan tidak menghargai sejarah, tapi juga membuka ruang bagi agenda terselubung kelompok khilafah eks-HTI.
Waspada dan peduli adalah langkah pertama untuk memastikan Merah Putih tetap berkibar di setiap jengkal tanah air.







