Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaPolitik

Budi Arie Diterpa Isu Lama, Dituding Terima 50% Keuntungan Judi Online

Views
×

Budi Arie Diterpa Isu Lama, Dituding Terima 50% Keuntungan Judi Online

Sebarkan artikel ini
Terseret Judol, Budi Arie: Gusti Allah Mboten Sare

Koma.id Menteri Koperasi dan UKM, Budi Arie Setiadi, kembali terseret dalam pusaran isu negatif terkait dugaan keterlibatan dalam jaringan mafia judi online. Isu tersebut menguat setelah beredarnya rekaman suara pria yang diduga adalah Budi Arie, viral di media sosial pada pekan ini. Dalam rekaman tersebut, terdengar suara pria meluapkan amarah karena namanya kembali dikaitkan dengan tuduhan menerima “jatah” sebesar 50 persen dari keuntungan bisnis judi online.

Pria dalam rekaman juga menuding PDI Perjuangan sebagai pihak yang sengaja membentuk opini publik untuk menjatuhkannya.

Silakan gulirkan ke bawah

Isu ini bukan yang pertama kali dialami Budi Arie. Pada November 2024 lalu, rekaman suara serupa yang diduga miliknya juga sempat beredar luas di media sosial. Dalam rekaman itu, suara pria yang diduga Budi Arie juga terdengar marah karena merasa difitnah dan diseret-seret dalam isu judi daring.

Hingga saat ini, Budi Arie belum memberikan klarifikasi resmi atas rekaman yang kembali viral. Saat dikonfirmasi awak media mengenai kemungkinan dirinya kembali dipanggil oleh penyidik Polri, Budi Arie enggan berkomentar banyak. Ia hanya menyebut isu judi online sebagai “lagu lama, kaset rusak” dan menegaskan, “Tuhan tidak pernah tidur.”

Di sisi lain, analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai, Budi Arie harus segera memberikan klarifikasi publik. Menurutnya, sebagai pejabat negara, Menteri Koperasi dan UKM wajib membuktikan dirinya tidak terlibat dalam dugaan perlindungan situs-situs judi daring.

Sementara itu, Ketua Presidium Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (JARI ’98), Willy Prakarsa, justru menyebut bahwa Budi Arie adalah korban kampanye fitnah sistematis. Menurut Willy, menteri tersebut memang terus menjadi target serangan yang tidak berdasar.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.