Koma.id | Karo – Tanah Karo kembali menjadi perhatian Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), yang secara langsung mengunjungi kawasan Liang Melas Datas, Kabupaten Karo, Sumatra Utara.
Kunjungan ini bertujuan untuk menampung aspirasi masyarakat, khususnya para petani jeruk yang tengah menghadapi tantangan besar akibat serangan hama lalat buah.
Dalam pertemuannya dengan warga, Jokowi menyoroti penurunan drastis produksi buah jeruk akibat hama yang meresahkan para petani. Sebagai langkah konkret, ia menggandeng para pakar pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Sumatera Utara (USU) untuk mencari solusi berbasis sains.
Brigadir Rizka Divonis 10 Tahun Penjara
Pakar UGM akan fokus pada pengendalian lalat buah, sementara USU membantu dalam pengembangan bibit unggulan guna meningkatkan kualitas hasil panen.

“Kita akan carikan solusinya. Saya hanya sedikit membantu dari belakang agar persoalan petani ini bisa berkurang dan dapat diselesaikan dengan baik. Kita melibatkan pakar-pakar yang ahli di bidangnya, seperti UGM untuk urusan lalat buah dan USU untuk pengembangan bibit unggul,” ujar Jokowi.
Selain itu, dalam kunjungannya, Jokowi memperkenalkan berbagai teknologi pertanian sederhana yang dapat membantu petani mengatasi permasalahan hama. Salah satunya adalah perangkap lalat buah, yang dinilai efektif dalam mengurangi populasi hama tanpa harus menggunakan bahan kimia berlebih. Ia juga menekankan pentingnya teknik panen yang tepat, seperti penggunaan gunting agar tanaman tetap terjaga kesehatannya.
“Kita kenalkan jebakan atau perangkap lalat buah ke petani, karena banyak yang belum tahu. Kita juga edukasi tentang cara panen yang benar, misalnya menggunakan gunting agar tanaman tidak rusak,” jelasnya.
Menurut Jokowi, serangan lalat buah dapat menurunkan produksi jeruk hingga lebih dari 50 persen. Oleh karena itu, berbagai langkah pencegahan dan perbaikan akan diterapkan agar hasil panen meningkat, sekaligus memperbaiki kondisi ekonomi petani.
Tak hanya soal peningkatan produksi, Jokowi juga memiliki visi jangka panjang agar jeruk Karo bisa menembus pasar ekspor. Ia berharap standar kualitas buah dapat ditingkatkan, sehingga memiliki daya saing lebih tinggi seperti kesuksesan ekspor alpukat dari Kendal.
“Ke depan, kita seleksi buah dengan berbagai grade. Jeruk berkualitas tinggi bisa dihargai lebih mahal, sementara yang berkualitas lebih rendah bisa diolah menjadi jus atau produk turunan lainnya. Harapannya, jeruk Karo bisa tembus pasar ekspor seperti alpukat dari Kendal,” tutupnya.








