Koma.id– Kejatuhan indeks dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Asia, Senin pagi (21/4/2025), menjadi angin segar bagi pasar emas yang langsung merespons dengan penguatan tajam. Indeks dolar AS tercatat jatuh ke level 98,62—angka terendah sejak 31 Maret 2022. Level ini sekaligus menjadi yang terendah dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Indeks dolar merupakan indikator kekuatan mata uang AS terhadap enam mata uang utama lainnya. Pelemahan ini mempersempit minat terhadap dolar sebagai aset lindung nilai, dan menggeser perhatian investor global ke emas sebagai aset aman yang lebih menjanjikan.
Di dalam negeri, lonjakan harga emas terjadi merata pada berbagai jenis dan ukuran. Harga emas 24 karat melonjak tajam hingga Rp11.000 per gram, dari sebelumnya di kisaran Rp1,7 juta menjadi sekitar Rp1,8 juta per gram. Kenaikan yang lebih besar tercatat pada pembelian per ons, yang melambung hingga Rp300.000 dari Rp55 jutaan menjadi Rp56 jutaan.
Kenaikan juga terjadi pada emas berkadar lebih rendah seperti 10 karat, 14 karat, 18 karat, hingga 22 karat. Meski demikian, harga emas Antam untuk ukuran satu gram tercatat masih bertahan di angka Rp2.034.000, sementara harga emas UBS stabil di level Rp1.993.000 per gram.







