Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaDaerahEkonomi

Telur Pecah: Alternatif Murah di Tengah Kenaikan Harga Pangan di Tangerang

Views
×

Telur Pecah: Alternatif Murah di Tengah Kenaikan Harga Pangan di Tangerang

Sebarkan artikel ini
Telur Pecah: Alternatif Murah di Tengah Kenaikan Harga Pangan di Tangerang

Koma.id, Tangerang – Menjelang bulan suci Ramadhan, harga bahan pangan pokok terus mengalami kenaikan di beberapa pasar tradisional di Kabupaten Tangerang, Banten.

Sabtu siang di Pasar Gudang Tigaraksa, harga telur ayam tembus tiga puluh ribu rupiah per kilogram, naik signifikan dari sebelumnya di kisaran dua puluh lima ribu hingga dua puluh tujuh ribu rupiah per kilogram.

Silakan gulirkan ke bawah

Tingginya harga telur ayam utuh membuat sebagian warga, terutama ibu-ibu rumah tangga, terpaksa beralih membeli telur pecah yang harganya jauh lebih murah. Telur pecah dijual hanya seribu rupiah per butir, atau lima ribu rupiah untuk lima butir. Situasi ini memaksa warga untuk mencari cara menghemat biaya rumah tangga agar tetap bisa memenuhi kebutuhan lainnya.

“Telur pecah lebih murah, hanya seribu rupiah per butir. Lumayan untuk masak buat anak-anak di rumah atau untuk mie rebus. Saya sih berharap turun dong harganya, berat banget nih, belum beli ini itu.” Ujar Novi, Sabtu (22/02/25).

Hal senada juga dirasakan Safrullah, warga setempat yang harus mengkonsumsi telur yang pecah, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kami beli yang pecahan saja karena murah. Kami tahu mungkin ada bakterinya, tapi kan nanti dimasak di rumah buat dadar anak-anak atau campuran mie instan.”kata Safrullah,

Adapun pedagang di pasar menjual 45 – 50 telur pecah setiap hari. Meskipun telur dalam kondisi pecah, telur tersebut masih dianggap layak dikonsumsi. Namun, tingginya harga telur utuh menyebabkan penurunan omzet pedagang 30% hingga 40% karena lebih banyak konsumen yang mengurangi pembelian telur utuh.

Samidi, seorang pedagang telur ayam, mencatat terpaksa menjual telur pecah karena khawatir merugi jika dibuang

“Telur pecah sering laku karena harganya setengah dari yang biasa. Saya jual seribu rupiah, murah kan, tapi orang masih sering nawar. Saya jual telur pecah rugi, tapi lebih baik dari pada dibuang. Mudah-mudahan harga bisa stabil lagi, terutama menjelang Ramadhan.”

Pedagang dan konsumen berharap pemerintah turun tangan untuk mencari solusi agar harga bahan pangan di pasaran kembali normal menjelang Ramadan. Meskipun harga saat ini naik, pasokan telur masih stabil, namun harga diperkirakan terus merangkak naik menjelang Ramadhan.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.