Koma.id – Publik dihebohkan lagi dengan berita mahasiswi Universitas Tarumanegara (Untar) yang ditemukan tewas di kawasan Gedung M Kampus 1, Grogol Petamburan, Jakarta Barat pada malam Jumat (4/10).
Mahasiswi berinisial E (usia 18) itu diduga bunuh diri dengan melompat dari pinggir dak lantai 6B gedung kampus. Isu yang beredar di media sosial, korban bunuh diri dengan beban proposal skripsi.
“Ada mahasiswi Untar diduga Bundir Jatuh dari Lantai 4, Rumornya karena Proposal Skripsi,” tulis akun @folkshittmedia di Twitter/X yang kemudian mendapat lebih dari 2,1 juta views.
Namun, hal tersebut dibantah oleh pihak kampus. Terlebih, faktanya korban masih menginjak semester 1 atau merupakan mahasiswa baru (maba) angkatan 2024 ini.
Sehingga, mahasiswi tersebut terhitung baru kuliah selama dua bulan. Mustahil sudah melakukan persiapan untuk skripsi. Karena masih maba, korban juga diduga belum memiliki teman untuk bercerita di kampus.
“(Korban) bukan mahasiswa yang sedang skripsi, bukan mahasiswa yang katanya skripsinya atau proposal skripsinya ditolak gitu ya. Ini yang perlu diluruskan,” demikian jelas Paula, perwakilan Humas kampus Untar.
Seperti diberitakan sebelumnya, pihak kampus belum bisa mengambil kesimpulan soal penyebab jatuhnya korban. Untar menyerahkan penyelidikan ke pihak kepolisian.
“Kita semua bersedih dan prihatin dengan musibah ini dan semoga orang tua serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan, serta penghiburan dari Tuhan,” jelas Humas Untar, Paula T Anggarina pada Sabtu (5/10).
Lanjutnya, Untar juga akan kooperatif dengan kepolisian dan akan mengikuti proses perkembangan kasus hingga diperoleh hasil.
“Pihak kampus Untar, akan terus bekerja sama dengan pihak berwenang yang saat ini tengah melakukan penyelidikan, dan akan menyampaikan update perkembangannya setelah diperoleh hasil,” ungkap dia.
Temuan Sajak Berbahasa Mandarin
Polisi menemukan buku kecil berisi sajak berbahasa Mandarin di dalam tas milik E. Kapolsek Grogol Petamburan Kompol Reza Hafidz Gumilang menjelaskan bahwa polisi telah berusaha menerjemahkan sajak tersebut.
“Yang jika diartikan secara umum oleh keluarga maupun kami dengan menggunakan Google Translate, itu hanya berisi sajak mengenai kehidupan,” kata Reza kepada wartawan, Senin (7/10).
Namun, polisi masih belum bisa menyimpulkan motif di balik tindakan E. Reza juga mengungkapkan bahwa tidak ada hal mencurigakan yang ditemukan dalam pemeriksaan ponsel dan barang-barang milik E.








