Koma.id– Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi akan terus mengalami pelemahan hari ini. Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, memperkirakan rupiah berpotensi terdepresiasi dalam rentang Rp 16.160 hingga Rp 16.280 per dolar AS.
Fikri menjelaskan bahwa pelemahan ini disebabkan oleh beberapa faktor eksternal dan internal. Salah satu faktor eksternal yang signifikan adalah perkembangan politik di Amerika Serikat, di mana Kamala Harris mulai mengungguli Donald Trump dalam beberapa polling. Ketidakpastian politik ini mempengaruhi sentimen pasar dan berdampak pada nilai tukar rupiah.
Selain itu, hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) yang mencatatkan peningkatan incoming bids (penawaran masuk) juga mempengaruhi pergerakan rupiah. Peningkatan penawaran ini menunjukkan minat yang tinggi terhadap instrumen keuangan Indonesia, namun juga menandakan adanya kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi.
Perkembangan di Timur Tengah juga memberikan dampak pada nilai tukar rupiah. Meningkatnya kemungkinan perdamaian di Gaza, seiring bersatunya faksi-faksi Palestina yang didorong oleh Cina, memberikan sentimen positif terhadap pasar global. Namun, dampak positif ini masih belum mampu menahan pelemahan rupiah secara signifikan.
Faktor lain yang turut mempengaruhi adalah penurunan harga minyak dunia yang mencapai 2%. Penurunan harga minyak ini memberikan tekanan tambahan pada rupiah, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor minyak dalam jumlah besar.







