Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaKeamanan

Data Sensitif Kominfo Dijual Rp2 M di Internet

Views
×

Data Sensitif Kominfo Dijual Rp2 M di Internet

Sebarkan artikel ini
Data Sensitif Kominfo Dijual Rp2 M di Internet

Koma.id Data sensitif dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) diketahui telah bocor dan dijual di pasar gelap internet dengan harga mencapai US$ 121.000 atau sekitar Rp 2 miliar. Informasi ini terkuak melalui forum BreachForums dan diunggah oleh pengguna dengan akun X.

“Dijual Data Kementerian Komunikasi dan Informatika,” ucap akun X (dahulu Twitter) @FalconFeedsio dikutip Selasa (2/7/2024).

Silakan gulirkan ke bawah

“Dijual seharga US$ 121.000,” ucap akun itu.

Data yang ditawarkan mencakup detail-detail penting seperti informasi lisensi perangkat lunak, nomor identitas pribadi (NIK), dan nomor rekening bank.

“Samples include, software license information, personal ID numbers (NIK), bank account details, and banking numbers,” tulis akun itu.

Reaksi dari masyarakat internet pun beragam, terutama terkait dengan implikasi potensial terhadap keamanan data pribadi, serta dampaknya terhadap sektor keuangan, termasuk maraknya praktik pinjaman online ilegal yang diduga menggunakan data tersebut.

“Dibuat apaan ya, buat bikin pinjol ya? Pantesan pinjol ilegal subur,” tulis warganet.

Tak hanya itu, beberapa warganet juga mengecam dan menuntut tanggapan tegas dari pemerintah, termasuk desakan untuk Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, untuk mengambil langkah-langkah responsif dalam menangani insiden ini.

“Budi mundur,” ucap warganet lain menimpali.

Kekhawatiran juga muncul terkait dengan keamanan data nasional, terutama dengan adanya laporan mengenai peretasan yang mengarah pada bocornya informasi dari Pusat Data Nasional (PDN). Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan cyber di era digital ini.

“Yang jago padahal banyak di Indonesia dan ada banyak cyber army yang pintar dan cerdas. Mereka berhak untuk mendapatkan tempat di Kemenkominfo,” pungkas warganet.

Keberadaan banyak “cyber army” lokal yang berpotensi untuk memberikan kontribusi positif di Kementerian Komunikasi dan Informatika menjadi salah satu sorotan akibat insiden ini, mengingat pentingnya menjaga kedaulatan data dan kesiapan menghadapi tantangan digital di masa depan.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.