Gulir ke bawah!
NasionalRagam

Gerhana Matahari Total 8 April 2024 Bikin Bumi Gelap 3 Hari, Ini Kata BMKG

262
×

Gerhana Matahari Total 8 April 2024 Bikin Bumi Gelap 3 Hari, Ini Kata BMKG

Sebarkan artikel ini

Koma.id – Sebuah fenomena alam yang luar biasa akan menghiasi langit di beberapa wilayah Bumi. Yaitu gerhana Matahari Total (GMT) pada tanggal 8 April 2024 nanti. Ini adalah momen langka di mana bulan menutupi seluruh cakram Matahari.

Beredar kabar, GMT ini akan bikin bumi menjadi gelap selama tiga hari bahkan diisukan sebagai hari kiamat. Apakah benar?

Silakan gulirkan ke bawah

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membantah kabar gerhana matahari total 8 April 2024 itu bakal bikin bumi dalam kegelapan selama tiga hari.

Karena menurut almanak BMKG, gerhana matahari ini diperkirakan berlangsung hanya dalam waktu beberapa jam saja. Sementara menurut Nationaleclipse.com, kota yang terlewati GMT, durasi totalitas terpanjangnya adalah 4 menit 26 detik.

“Tidak perlu khawatir, karena simpang siur yang mengatakan bumi akan gelap selama 3 hari merupakan info yang tidak benar ya,” tulis BMKG di akun Instagramnya @infoBMKG.

Lagi pula, kata BMKG, Indonesia juga tidak terlewati jalur totalitas gerhana matahari total ini. Karena peristiwa gerhana tersebut hanya dapat diamati di Amerika Utara, Amerika Serikat, Meksiko, Amerika Serikat bagian tengah dan Kanada bagian timur.

Gerhana matahari total seperti ini terjadi kira-kira setiap 18 bulan di berbagai lokasi di Bumi. Gerhana matahari total terakhir terjadi di AS pada 21 Agustus 2017 lalu.

Menguak Rahasia Mahkota Matahari
Sebuah tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh Universitas Aberystwyth bersiap untuk menjalankan eksperimen di dekat Dallas, langsung di jalur totalitas.

Tim tersebut terdiri dari mahasiswa PhD dan peneliti dari Aberystwyth University, NASA Goddard Space Flight Center di Maryland, serta Caltech (California Institute of Technology) di Pasadena.

Eksperimen ini bertujuan untuk memanfaatkan momen gerhana guna menyelidiki Matahari dengan pendekatan yang unik dan berharga, bahkan melebihi misi berbasis ruang angkasa.

Diharapkan bahwa penelitian ini akan membantu mengungkap teka-teki lama mengenai mahkota Matahari, bagian terluar atmosfer yang sangat panas dan jauh lebih panas daripada permukaan Matahari.

Sebuah tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh Universitas Aberystwyth bersiap untuk melakukan eksperimen istimewa di dekat Dallas, Texas, Amerika Serikat. Tepat di jalur totalitas Gerhana Matahari 8 April 2024, penelitian inovatif ini akan memanfaatkan momen langka ini untuk mempelajari Matahari dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Tim yang terdiri dari mahasiswa PhD dan peneliti dari Aberystwyth University, NASA Goddard Space Flight Center di Maryland, dan Caltech (California Institute of Technology) di Pasadena ini akan menggunakan gerhana matahari sebagai “laboratorium alam” untuk menguak rahasia mahkota Matahari.

Mahkota Matahari, bagian terluar atmosfernya, memiliki temperatur yang jauh lebih panas daripada permukaannya. Bagaimana panas ini dihasilkan masih menjadi misteri bagi para ilmuwan. Eksperimen di Dallas ini diharapkan dapat memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Mempelajari Mahkota Matahari Dengan Spektroskopi
Tim ilmuwan akan menggunakan spektroskopi, sebuah teknik yang memecah cahaya menjadi berbagai warna, untuk mempelajari emisi cahaya dari mahkota. Setiap warna mewakili elemen atau atom yang berbeda.

Dengan menganalisis emisi cahaya tersebut, para ilmuwan dapat mempelajari komposisi dan temperatur mahkota, serta mekanisme di balik panasnya yang luar biasa.

Kesempatan Langka untuk Memahami Matahari
Gerhana matahari total merupakan momen istimewa bagi para ilmuwan untuk mengamati Matahari dengan cara yang tidak mungkin dilakukan pada waktu lain. Eksperimen di Dallas ini akan memberikan data penting yang tidak dapat diperoleh dari misi luar angkasa.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang Matahari dan membantu kita memahami misteri mahkotanya. Hasilnya akan memberikan kontribusi signifikan bagi ilmu pengetahuan dan membuka jalan bagi penelitian yang lebih lanjut di masa depan.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.