Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
NasionalPolitik

Prabowo-Gibran Diprediksi Bakal Menang Satu Putaran

Views
×

Prabowo-Gibran Diprediksi Bakal Menang Satu Putaran

Sebarkan artikel ini
prabowo-gibran-kompak-berbaju-biru-jelang-pendaftaran-pilpres-2024_169
Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Koma.id – Survei Indonesia Polling Stations (IPS) terkini, terkait bursa Pilpres 2024, duet Menteri Pertahanan (Menhan) dan Wa­likota Solo itu unggul telak dengan elektabilitas 51,8 persen.

“Jika trend seperti ini terus berlanjut hingga 14 Februari 2024, dalam arti tidak ada gempa politik dengan magnitudo yang tinggi di Tanah Air, hampir pasti Prabowo-Gibran akan menuntas­kan Pilpres 2024 hanya dalam satu putaran saja,” ujar Direktur Riset IPS, Alfin Sugianto, saat merilis survei secara daring, kemarin.

Silakan gulirkan ke bawah

Keyakinan ini, diungkapkan Alfin karena elektabilitas Capres Prabowo telah melewati ambang batas minimal, yaitu di atas 50 persen untuk memenangkan Pilpres dalam satu putaran saja. Sementara, di posisi kedua, ada Anies Baswedan 21,3 persen, Ganjar Pranowo 19,2 persen, dan yang menjawab tidak tahu sebesar 7,7 persen.

“Ini artinya modal elektoral Anies-Muhaimin maupun Gan­jar-Mahfud untuk mengejar elektabilitas Prabowo-Gibran sangat terbatas,” katanya.

Alfin menganalisa, duet ofen­sif Anies dan Ganjar di debat ketiga Capres menjadi bumer­ang bagi mereka. Para pesaing paslon 02 itu semakin kehilangan simpati publik dan elektabilitas mereka pun kian merosot.

Sementara Capres Prabowo Subianto yang menjadi sasaran serang dalam Debat Capres 7 Januari 2024, justru kian mendu­lang empati publik. Elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran se­makin melesat.

Rontoknya elektabilitas pa­sangan Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud MD, menurut analisis IPS, memiliki korelasi dengan Debat Capres 7 Januari 2024. Secara mengejutkan, seolah terjadi kolaborasi antara Anies dan Ganjar untuk menjalankan strategi serangan total terhadap capres Prabowo Subianto.

Hasilnya, duet ofensif kedua capres itu justru menjadi bu­merang. Tingkat antipati publik terhadap Anies dan Ganjar se­makin meningkat. Sementara, gelombang simpati publik ter­hadap Prabowo justru menguat.

“Ketika IPS melakukan sur­vei pasca debat, terkonfirmasi dengan tegas, elektabilitas Anies-Muhaimin cenderung menurun dan Ganjar-Mahfud semakin terbenam di posisi juru kunci. Pada saat yang sama, pasangan Prabowo-Gibran yang terus di­hujani serangan dan kritik malah kebanjiran simpati publik luas,” katanya.

Hasil survei menyebutkan, meskipun Prabowo diprediksi menang satu putaran, jika nanti­nya berlangsung dua putaran, paslon 02 diprediksi tetap tampil sebagai pemenangnya. Hitungannya, di simulasi head to head Prabowo-Gibran versus Anies-Muhaimin, paslon 02 tetap menang telak.

Sebanyak 60,3 persen respon­den mengaku akan memilih Prabowo-Gibran dan hanya 31,7 persen yang mendukung Anies-Muhaimin, dan sisanya sebanyak 8 persen belum bisa memutuskan memilih paslon mana.

Juga ketika simulasi head to head untuk mengantisipasi kemungkinan pasangan Ganjar-Mahfud yang lolos ke putaran ke-2 menantang Prabowo-Gi­bran, ternyata hasilnya tidak jauh berbeda. Prabowo-Gibran tetap menang telak dengan 59,4 persen, sementara Ganjar-Mah­fud hanya dipilih oleh 34,2 per­sen responden dan sebanyak 6,4 persen masih belum memilih. Dengan demikian, Prabowo-Gibran tetap tak terbendung.

Lalu, bagaimana jika pada putaran kedua pasangan Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud berkoalisi, mengeroyok Prabo­wo-Gibran? Di tingkat elite, wacana koalisi itu bisa saja terjadi. Tapi di level akar rumput, terbentuknya koalisi massa Anies dengan massa Ganjar hampir mustahil.

“Massa Anies dan massa Gan­jar mewakili dua spektrum ideol­ogis yang sangat sulit bersenya­wa, bahkan pada Pilpres 2019 mereka bertempur mewakili dua bendera yang berbeda, kampret dan cebong,” kelakarnya.

Berdasarkan hasil analisis IPS, jika Ganjar-Mahfud gagal tembus ke putaran kedua maka massanya cenderung menjatuh­kan pilihannya pada Prabowo-Gibran. Begitu pula jika Anies-Muhaimin yang kandas, mas­sanya yang merepresentasikan politik Islam di Indonesia itu juga lebih nyaman bergabung bersama Prabowo-Gibran.

“Jadi apakah satu putaran atau dua putaran, kemenangan Prabo­wo-Gibran pada Pilpres 2024 ini nampaknya sulit terbendung.

Diketahui, survei ini digelar medio 7-14 Januari 2024 di 38 provinsi yang ada di seluruh Indonesia. Jumlah sampel survei IPS kali ini sebesar 1220 respon­den, diperoleh melalui teknik pengambilan sampel secara acak bertingkat atau multi stage random sampling.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.