Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Nasional

Kantongi 1,4 Juta Ton, Bulog Pastikan Stok Beras Aman untuk Nataru

Views
×

Kantongi 1,4 Juta Ton, Bulog Pastikan Stok Beras Aman untuk Nataru

Sebarkan artikel ini
Kantongi 1,4 Juta Ton, Bulog Pastikan Stok Beras Aman untuk Nataru

Koma.id – Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) memiliki stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebanyak 1,4 juta ton. Jumlah tersebut aman untuk memenuhi kebutuhan pangan selama Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Manager Humas dan Kelembagaan Perum Bulog Tomi Wijaya mengatakan, dengan stok beras tersebut, serta adanya tambahan baru penugasan impor dari Pemerintah sebanyak 1,5 juta ton, maka jumlahnya akan makin kuat untuk memenuhi kebutuhan Nataru.

Silakan gulirkan ke bawah

“Per Kamis (14/12/2023), ada 1.050 juta ton penyerapan, sedikit lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 997 ribu ton. Karena ada beberapa daerah yang masa panennya tidak serentak,” ujar Tomi di Jakarta, Jumat (15/12).

Dilansir dari web bulog.co.id, per Jumat (15/12/2023) siang, realisasi pengadaan ter­catat 999.021 ton dan realisasi Stabilisasi Pasokan dan harga Pangan (SPHP) sebanyak 1.073.785 ton. Jumlah ini masih akan terus bertambah, seiring dengan masuknya beras impor secara bertahap.

Dia menuturkan, Presiden Jokowi menginginkan agar Bu­log memiliki stok CBP sebanyak 3,8 juta ton tahun 2024.

Untuk memenuhi hal itu, pihaknya masih terus mengutamakan penyerapan dalam negeri. Namun, karena adanya dampak yang signifikan dari El Nino, diperkirakan tidak akan ada panen raya akhir tahun ini hingga akhir Maret 2024.

Sehingga untuk kebutuhan Na­taru, Pemilihan Umum (Pemilu) pada Februari 2024, termasuk program bantuan pangan yang diperpanjang hingga Juni tahun 2024, maka Bulog terus berupaya menjajaki pengadaan beras dari sejumlah negara.

“El Nino ini tidak hanya ter­jadi di Indonesia. Tapi di seluruh dunia. Jadi, sebenarnya sangat sulit mendapatkan stok beras dari luar negeri,” kata Tomi.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, awal tahun 2023, Pemerintah menugaskan Bulog melakukan importasi beras sebanyak 2 juta ton dan ini sudah terealisasi.

Lalu, Pemerintah kembali menugaskan Bulog melakukan tambahan impor akhir tahun 2023 sebanyak 1,5 juta ton.

Bulog, kata dia, sudah berhasil mendapatkan kontrak sebesar 1 juta ton dari kuota tambahan penugasan importasi beras terse­but. Dan yang sudah masuk ke Indonesia ada 500 ribu ton. “Si­sanya masih dalam perjalanan,” jelasnya.

Saat ini, manajemen Bulog terus menjajaki sejumlah negara untuk mendapatkan kontrak impor sisanya, yaitu 500 ribu ton lagi.

“Ini sudah kami upayakan terus, agar kontraknya bisa dida­pat di akhir tahun ini. Supaya bisa carry over awal Januari 2024,” terangnya.

Sejauh ini, kontrak yang telah didapatkan Bulog dengan be­berapa negara yang produksinya masih banyak, yaitu Thailand, Vietnam, Pakistan, Myanmar dan Kamboja.

“Kami juga akan menjajaki India maupun negara lain yang memungkinkan dan memenuhi persyaratan,” katanya.

Menurut dia, India mulai membuka kembali kebijakan impor berasnya ke negara lain, sehingga ada potensi untuk mendapatkan beras impor dari Negeri Bollywood.

Dengan begitu, stok beras untuk penyaluran hingga tahun depan dapat terjaga, sehingga diharapkan dapat mempertahankan stabilitas harga beras di masyarakat.

Tomi menerangkan, Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menugaskan Bulog untuk melaksanakan dua instrumen utama guna mengantisipasi gejolak harga beras di Tanah Air.

Dua instrumen itu, kata dia, yakni program Bantuan Pangan dan Operasi Pasar atau SPHP, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.

Sebab, Pemerintah melalui Bulog sudah menggelontorkan beras SPHP di seluruh Indo­nesia, dengan jumlah total per Kamis (14/12/2023) sebanyak 1,1 juta ton.

Tak hanya itu, pihaknya juga menyalurkan beras untuk program Bantuan Pangan tambahan di Desember.

Secara keseluruhan, total beras Bantuan Pangan yang disalurkan sepanjang tahun 2023 sudah sebanyak 1,4 juta ton.

Dia menambahkan, sesuai arahan Presiden Jokowi saat memberikan langsung ban­tuan pangan di Malang, Kamis (14/12/2023), program ini akan diteruskan sampai Maret 2024.

“Presiden juga akan memper­hatikan lagi APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Nega­ra) untuk menambah program bantuan pangan ini bisa terus dilanjutkan sampai Juni 2024,” imbuhnya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.