Koma.id– Pergulatan politik di Indonesia semakin ramai dengan bergabungnya Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo (Jokowi), ke dalam Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Langkah ini telah menciptakan kontroversi dan meninggalkan tanda tanya besar di kalangan politisi dan masyarakat.
Bedanya aliran politik Kaesang dari keluarga Jokowi yang mayoritas tergabung dalam Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) ke PSI dianggap sebagai manifestasi dari politik dua kaki.
Pasalnya, Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution, dua anak Jokowi lainnya yang juga aktif di PDI-P, mendukung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden, Kaesang telah bersama PSI mendukung Prabowo Subianto.
“Dalam konteks pilpres, bergabungnya Kaesang ke PSI mengafirmasi bahwa Presiden Jokowi memainkan politik dua kaki. Menimbang Gibran dan Bobby masih kader PDI-P yang notabene mendukung Ganjar sebagai capres. Sementara PSI dengan Kaesang sementara ini mendukung Prabowo,” kata Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, Minggu (24/9/2023).
Namun, yang lebih mengejutkan adalah pengungkapan dari dalam PSI sendiri bahwa ada aspirasi dari para kader untuk menjadikan Kaesang Pangarep sebagai ketua umum partai. Ini membawa pertanyaan besar tentang apakah Kaesang akan memainkan peran yang lebih aktif dalam dunia politik dan bagaimana hal ini akan memengaruhi dinamika politik di Indonesia.
Bergabungnya Kaesang dengan PSI juga menciptakan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Beberapa mendukung langkah ini, melihatnya sebagai upaya generasi muda untuk terlibat secara aktif dalam politik dan membawa perubahan. Namun, yang lain skeptis terhadapnya, merasa bahwa politik keluarga Jokowi yang terpecah dapat membingungkan pemilih dan mengaburkan garis-garis ideologi yang jelas.







