Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
HukumNasional

Pegawai BUMN Terseret Skandal Terorisme, Rekening Nilai Transaksi Miliaran Rupiah Diblokir

Views
×

Pegawai BUMN Terseret Skandal Terorisme, Rekening Nilai Transaksi Miliaran Rupiah Diblokir

Sebarkan artikel ini
Pegawai BUMN Terseret Skandal Terorisme, Rekening Nilai Transaksi Miliaran Rupiah Diblokir

Koma.id Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) telah mengambil langkah tegas dengan memblokir rekening karyawan dari PT KAI (Persero) yang terlibat dalam tindak pidana terorisme. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan penindakan terhadap dugaan keterlibatan mereka dalam jaringan terorisme. Tidak hanya karyawan PT KAI, tetapi sejumlah pihak terkait juga mendapati rekening mereka diblokir oleh PPATK.

Dalam pengumuman resmi, PPATK mengklarifikasi bahwa mereka tengah bekerja sama erat dengan Densus 88, unit khusus yang bertugas menangani masalah terorisme di Indonesia. Langkah ini menunjukkan komitmen serius dalam memerangi ancaman terorisme yang dapat mengganggu keamanan negara.

Silakan gulirkan ke bawah

Bukan hanya itu, nilai transaksi yang terkait dengan rekening-rekening yang disita mencapai jumlah yang signifikan, bahkan mencapai miliaran rupiah. Hal ini memperlihatkan bahwa kegiatan finansial terkait terorisme bukanlah perkara kecil, dan adanya dugaan transaksi besar-besaran menimbulkan keprihatinan yang lebih dalam.

“Ya kami bekukan beberapa rekening milik yang bersangkutan dan beberapa pihak terkait. Saat ini kami koordinasi terus dengan Densus 88,” kata Kepala PPATK Ivan Yustiavandana, Rabu (16/8/2023).

Para pengamat terorisme turut angkat bicara dalam peristiwa ini. Mereka mengungkapkan pandangan bahwa penangkapan terduga pelaku terorisme di Bekasi, yang melibatkan pegawai BUMN, merupakan indikasi perubahan strategi dari jaringan teroris ISIS dalam merekrut anggota baru. Observasi menarik di sini adalah pergeseran pandangan kelompok pro-ISIS terhadap institusi negara.

Sebelumnya, mereka cenderung melihat negara sebagai musuh yang harus dilawan. Namun, situasi terbaru mengisyaratkan adanya penyesuaian pandangan yang memungkinkan kelompok tersebut untuk memanfaatkan institusi negara demi keuntungan pribadi tanpa harus meninggalkan radikalisme mereka.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.