Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
NasionalPolitik

Virus Politik Vs Corona, Siapa yang Lebih Mematikan?

Views
×

Virus Politik Vs Corona, Siapa yang Lebih Mematikan?

Sebarkan artikel ini
Virus Politik Vs Corona, Siapa yang Lebih Mematikan?

Koma.id Koma Indonesia kembali menggelar podcast dengan menghadirkan narasumber-narasumber berpengalaman membahas potensi ancaman berbahaya menjelang Pemilu 2024  yang dikemas bertajuk “Virus Politik Lebih Ganas dari Virus Corona

Hadir sebagai narasumber di antaranya
Ketua Presidium Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia 98 (JARI 98), Willy Prakarsa,  Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas dan Aktivis 98 Roy Ferdinand Martin Sitorus.

Silakan gulirkan ke bawah

Willy Prakarsa menekankan, saat ini tensi politik semakin memanas dan lebih mengkhawatirkan daripada ancaman virus corona. Untuk itu meski dikelola dengan baik lantaran bisa merusak demokrasi hingga ke akar-akarnya. Untuk itu pentingnya pendidikan politik yang mendalam, tanpa manipulasi uang, agar masyarakat dapat membuat keputusan yang cerdas dan tidak terjebak dalam transaksi politik yang merugikan tatanan bangsa.

Saat ini sangat dibutuhkan peran sinergi antara TNI, Polri, BIN, dan Kejaksaan  dalam menyongsong tahun politik 2024. Yakni melakukan upaya preventif dan pencegahan.

“Menyinggung lagu saya Vox Populi Vox Dei, ambil uangnya jangan coblos orangnya. Kalau dimulai tanpa gagasan, tanpa visi misi jelas, tanpa edukasi yang bisa meyakinkan pemilih. Maka itu sah, ambil uangnya jangan coblos orangnya,” kata Willy.

Sementara itu, Fernando Emas, dalam analisisnya, mengingatkan tentang risiko konflik yang dapat timbul akibat pemanfaatan isu-isu sensitif dalam menyambut Pemilu 2024.

Ia menyebutkan bahwa permainan politik yang tidak mempertimbangkan stabilitas masyarakat dapat berdampak negatif.
Sebagai akibatnya, pelaku usaha, terutama usaha kecil dan masyarakat dapat menjadi korban utama dari situasi ini.

Fernando mengajak untuk memainkan isu-isu gagasan yang membangun, bukan isu-isu yang merusak dan menghasut konflik di masyarakat.

Ia menyerukan agar para aktor politik lebih berhati-hati dalam memanfaatkan situasi ini, dan menghindari praktik-praktik yang dapat merugikan masyarakat luas.

“Saya berharap kalau berselancar bermain di gelombang bagus, bukan merusak. Begitu juga memainkan isu gagasan jadi bukan pernyataan atau isu-isu yang membuat konflik di masyarakat dan jangan terulang lagi,” kata Fernando.

Sementara itu, mengenai keamanan dalam pesta demokrasi, Roy Ferdinand Martin Sitorus menyoroti upaya yang dilakukan oleh aparat keamanan dalam menjaga situasi Kamtibmas menjelang Pemilu 2024. Baginya,  kepolisian dengan pendekatan humanis dan partisipasi masyarakat telah memitigasi potensi gangguan keamanan selama proses demokrasi berlangsung.

Sementara soal seruan People Power, Roy mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menyampaikan aspirasi. Lalu intens menjaga ketertiban dan mencegah provokasi yang dapat merusak stabilitas negara.

“Kita sebagai masyarakat sadar, apa yang harus kita lakukan. Kita sebagai masyarakat aktif untuk mengedukasi bahwa bahaya itu ada di depan mata dan bagaimana kita bekerja sama menghadapi ini supaya Kamtibmas kita bisa terjaga,” tutupnya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.