KOMA.ID – BADAI El-Nino memang mulai menghantam beberapa negara, tidak terkecuali Indonesia. Tidak heran, jika gelombang panas ekstrem terjadi di beberapa negara.
Sementara di wilayah Indonesia sendiri, dampaknya adalah mengurangi curah hujan.
Jadi jika dijelaskan secara singkat, jika El Nino ini datang maka akan memicu terjadinya kekeringan di Indonesia. Tak hanya itu, dampak lain yang timbul adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Karhutla ini sendiri menjadi fenomena khusus di Indonesia, karena sempat merepotkan negara tetangga.
Apakah saat ini panasnya mulai terasa? Di Jambi sendiri khususnya, suhu pada siang hari dirasakan cukup panas. Pemerintah pun telah mengeluarkan imbauan, agar masyarakat tidak terlalu banyak melakukan aktifitas di luar rumah.
Adanya ancaman badai El-Nino ini pun perlu diantisipasi oleh Pemerintah didukung dan bekerjasama oleh semua pihak. Hal ini jangan sampai terjadi seperti di Malaysia fenomena panic buying borong air mineral akibat kekeringan yang melanda disana. Pasalnya, keran beberapa hari terakhir mengalami kekeringan.
Untuk diketahui, peristiwa El Nino sendiri adalah fenomena ketika suhu air laut yang ada di Samudra Pasifik memanas di atas rata-rata suhu normal. Tanda-tanda El Nino ini pun ternyata sudah terdeteksi di luar angkasa oleh satelit NASA.
Berdasarkan visual yang ditampilkan, tampak air hangat di Samudra Pasifik bergerak ke arah timur menuju pantai barat Amerika Selatan pada Maret dan April lalu. Satelit Sentinel-6 Michael Freilich yang memantau permukaan laut menunjukkan gelombang Kelvin bergerak melintasi pasifik.
Tinggi gelombang ini hanya 5-10 sentimeter, namun dengan luas mencapai ratusan mil. Gelombang ini dianggap sebagai pertanda awal El Nino ketika terbentuk di ekuator dan memindahkan lapisan atas air yang hangat ke Pasifik bagian barat.
Gambar yang diambil Sentinel-6 menunjukkan gelombang Kelvin menggerakkan air hangat ke timur, kemudian menyatukannya di lepas pantai Kolombia, Ekuador, dan Peru.
“Kami akan menyaksikan El Nino ini seperti elang. Jika ini besar, dunia akan mengalami rekor pemanasan,” kata Ilmuwan Proyek NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL), Josh Willis, dikutip dari Space.
El Nino merupakan bagian dari siklus iklim El Nino Southern Oscillation (ENSO). Angin timur di khatulistiwa, atau disebut juga angin pasat, akan meniup air permukaan ke arah barat. Dia akan memindahkan air hangat dari Amerika Selatan menuju Asia. Ketika air hangat bergerak, maka air dingin akan naik menggantikannya.













