Koma.id – Menyikapi pemilu serentak 2024 Polri harus bekerja ekstra. Biasanya ruang digital sangat dipenuhi oleh hoax, hate spech dan lain sebagainya.
Praktisi digital yang juga programer, Tatang Iwan Suryana, mengatakan bahwa Polri memiliki kemampuan dalam analisis sosial media untuk mengindentifikasi upaya hoax dan ujaran kebencian.
“Sebenarnya ada dulu kita punya (gunakan) drone emprit, itu kan bisa memantau sentimen negatif atau positif. Jadi konteksnya ada yang namanya analisa, analisis sosial media,” kata Tatang dalam podcast Koma Indonesia ‘Percuma Polri Main Medsos? Tantangan Polri dalam Pemilu 2024 di Era Digital’, Selasa (11/4/2023).
“Kalau kita lebih cenderung menggunakannya bahwa Polri bisa meningkatkan kemampuan dalam analisis sosial media,” tambah dia.
Tatang menegaskan juga misalnya bicara ke operasional sebagai Samapta, Bhabinkamtibmas untuk lebih meningkatkan agar bisa meredam, keliling lebih banyak ke masyarakat.
“Keliling ke yang kita tau nih di sini ramai banyak obrolan politik, datang ke sana bisa lebih meredam. Hoaks itu ada berita palsu, video palsu, ada gambar palsu, kebanyakan sih lebih ke berita palsu yang intinya untuk menyudutkan satu pihak,” ungkap Tatang.
“Hal ini karena ruangnya sangat bebas dan bisa anonim. Ini permasalahannya. Sedangkan kita untuk bisa memantau siapa yang misalkan yang post pertama itu, satu butuh waktu, dua, butuh perangkat yang enggak murah,” jelas dia lagi.
Ditegaskannya, ada beberapa cara untuk menangkal dan meminimalisir penyebaran informasi dan berita-berita hoaks diruang media sosial terutama jelang gelaran pemilu 2024 mendatang.
“Polri bisa bekerja sama dengan influencer, konten kreator. Kenapa pentingnya? Saat banyak racun masuk ke ruang digital kita juga harus melakukan penetralnya ini, antidotnya, antidotnya apa? Bantulah kita bikin masyarakat ini lebih happy. Tapi tidak juga dengan sesuatu yang sangat serius, skemanya lebih entertain tapi ada informasi yang disampaikan, lebih dibanjiri yang sifatnya berbau pemilu,” tukasnya.













