Koma.id – Pengamat kebijakan ekonomi politik dari lembaga riset Laboratorium Indonesian 45 (LAB 45) Reyhan Noor, mengatakan ada dua alasan utama yang memperkuat langkah pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM subsidi
Pertama, harga minyak dunia relatif tinggi bila dibandingkan dengan asumsi makroekonomi di APBN 2022.
Kedua, anggaran subsidi BBM dapat dialihkan untuk melanjutkan agenda transformasi struktural ekonomi.
“Kebijakan untuk menaikkan harga BBM subsidi pertalite dan solar sudah tepat,”
kata Reyhan, Senin (5/9/2022).
Sementara soal penyaluran subsidi BBM, lanjut Reynan, dalam konteks menjaga kesejahteraan uang subsidi BBM lebih baik disalurkan langsung kepada masyarakat yang masuk dalam kriteria membutuhkan.
Pasalnya, kebijakan Bantuan Langsung Tunai (BLT) BBM itu akan memiliki efektivitas yang lebih tinggi dari subsidi BBM.
Sedangkan anggaran subsidi dan kompensasi energi tahun ini yang cukup besar memiliki trade-off dari agenda transformasi struktural ekonomi.
Jadi, dengan anggaran sebesar Rp650 triliun, banyak agenda kebijakan transformasi struktural ekonomi yang dapat dilakukan.







