Koma.id | Bekasi, Jawa Barat – Di bawah langit pagi yang cerah dan angin lembut yang menyapu pelataran UPT Asrama Haji Embarkasi Bekasi, puluhan calon jamaah umroh berkumpul dalam suasana penuh semangat.
Hari ini bukan sekadar hari biasa bagi mereka, ini adalah awal dari perjalanan spiritual menuju Tanah Suci.
Dengan mengenakan pakaian muslim santai namun rapi, para jamaah menyimak setiap arahan dari pembimbing ibadah. Di antara mereka, tampak Tarmo Hadi, pensiunan swasta asal Solo, yang memerhatikan dan mencatat dengan teliti penjelasan tentang thawaf dan sa’i.
“Alhamdulillah saya sama istri bisa ikut manasik. Banyak perubahan dan info terbaru di Tanah Suci, baik dari sisi cuaca maupun sistemnya,” ujar Tarmo dengan senyum hangat, sabtu (09/08).
Manasik kali ini memang berbeda. Menurut H. Ivan Septiadi, Direktur Utama PT Duta Mulia, kegiatan ini tidak hanya membahas aspek ritual, tetapi juga kesiapan menghadapi kondisi terkini di Mekkah dan Madinah.
“Kami tekankan pentingnya adaptasi terhadap cuaca ekstrem yang panasnya bisa mencapai 45°C, tidak hanya acara ini juga berbagi info akan beberapa system dan teknologi baru yang diterapkan pemerintah Arab Saudi.” Jelas Ivan.
Pemerintah Arab Saudi telah mengimbau jamaah untuk menghindari aktivitas berat di siang hari dan memanfaatkan fasilitas pendingin di area Masjidil Haram dan Nabawi. Namun bukan hanya cuaca yang berubah namun sistem teknologi di Tanah Suci kini semakin canggih.
Pemandu ibadah, navigasi berbasis AI, hingga pembayaran digital melalui kartu Nusuk dan QRIS menjadi bagian dari pengalaman baru. Bagi sebagian jamaah, ini adalah lompatan besar dari tradisi lama.
“Dulu kita hanya bawa uang tunai dan buku panduan. Sekarang, semua bisa diakses lewat aplikasi. Tapi tetap, ruh ibadahnya harus dijaga,” tambah Ivan.
Menanggapi perubahan ini, Ustadz Imansyah, muthowif yang akan mendampingi jamaah selama di Tanah Suci, menekankan pentingnya keseimbangan antara teknologi dan kekhusyukan.
“Kami ajak jamaah untuk tetap fokus pada makna ibadah. Jangan sampai sibuk dengan ambil gambar update status, tapi lupa berdoa. Manasik ini adalah latihan hati,” tutur Ustadz Imansyah dengan nada lembut namun tegas.
Manasik umroh di Bekasi ini menjadi cerminan zaman bahwa spiritualitas yang tetap menyala di tengah guyuran digital. Para jamaah bersiap menapaki jejak suci, membawa harapan, doa, dan semangat yang tak pernah padam.










