Koma.id | Jakarta – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, perhatian publik kembali tertuju pada Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang akan bertugas di Istana Negara. Di antara atribut yang dikenakan, songkok hitam menjadi salah satu elemen paling ikonik dan sarat makna sejarah.
Songkok bukan sekadar pelengkap busana kenegaraan. Ia merepresentasikan kehormatan, kedisiplinan, dan identitas budaya yang telah melekat dalam perjalanan bangsa. Dalam konteks Paskibraka, songkok menjadi simbol nasionalisme dan kebanggaan generasi muda yang mengemban tugas sakral mengibarkan Sang Merah Putih.
Kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat bahwa songkok atau peci mulai dikenal luas pada awal abad ke-20 dan berkembang sebagai bagian dari busana resmi kenegaraan. Pengaruhnya berasal dari berbagai budaya, termasuk Turki dan Jazirah Arab, namun kemudian beradaptasi menjadi simbol khas Indonesia.
TNI AL Temukan Pelampung di Selat Sunda, Belum Bisa Dipastikan Milik Jurnalis yang Hilang
Di Sulawesi Selatan, Songko Recca dari Kerajaan Bone telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Sementara di Bangka Belitung, songkok resam menjadi bagian dari pakaian adat Melayu. Dalam lingkungan pesantren, songkok juga menjadi identitas santri dan simbol kesederhanaan. Manager Marketing PT Behaestex, Nur Yahya, menyebut kepercayaan tersebut sebagai kehormatan sekaligus tanggung jawab. “Menjadi bagian dari momen bersejarah di Istana Negara sejak 2019 merupakan kehormatan bagi kami. Kami berkomitmen menghadirkan songkok berkualitas tinggi yang tetap menjaga nilai budaya Indonesia,” ujarnya.
Songkok Paskibraka memiliki aturan ketat dalam penggunaannya:
- Posisi lurus di kepala, tidak boleh miring atau longgar.
- Warna hitam pekat melambangkan wibawa dan kesopanan.
- Pin Garuda di sisi kiri menjadi simbol kehormatan dan persatuan.
Bentuk dan posisi songkok mencerminkan disiplin tinggi anggota Paskibraka, sejalan dengan nilai-nilai yang dipegang dalam setiap prosesi kenegaraan.
Keberadaan songkok dalam upacara kenegaraan menunjukkan bagaimana warisan budaya dapat beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan makna. Dari simbol kerajaan hingga atribut nasional, songkok menjadi representasi perjalanan panjang identitas bangsa Indonesia.
Sejak 2019, Songkok BHS dan Atlas Edisi Paskibraka produksi PT Behaestex dipercaya sebagai penutup kepala resmi bagi anggota Paskibraka di Istana Negara. Produk lokal ini menggabungkan karakter tradisional dengan desain modern yang menonjolkan kerapian dan kenyamanan.









