Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaEkonomiNasional

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.860 per Dolar AS, Pasar Cermati Arah Kebijakan BI

×

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.860 per Dolar AS, Pasar Cermati Arah Kebijakan BI

Sebarkan artikel ini
dollar rupiah
Dolar Amerika Serikat dan Rupiah Indonesia.

Koma.id | Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan.  Mata uang Garuda dibuka melemah ke level Rp17.860 per dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan tren penurunan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Selasa (22/09).

Berdasarkan data pasar, rupiah dibuka di posisi Rp17.860 per dolar AS atau melemah 0,20 persen dibandingkan penutupan Senin 21 September 2026 di level Rp17.830 per dolar AS. Sehari sebelumnya, rupiah tercatat terkoreksi 0,56 persen.

Silakan gulirkan ke bawah

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia terpantau berada di level 100,425 pada pukul 09.00 WIB. Posisi tersebut relatif stabil setelah sebelumnya menguat 0,21 persen.

Tekanan terhadap rupiah dinilai masih dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Bank Indonesia (BI) menyebut meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menjadi salah satu penyebab utama pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan kondisi geopolitik tersebut turut menjaga harga minyak dunia tetap berada di atas US$100 per barel. Situasi ini meningkatkan risiko inflasi global sekaligus menambah tekanan terhadap pasar keuangan.

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga dipicu meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk kegiatan impor serta arus keluar dana asing dari portofolio aset domestik.

“Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik,” kata Erwin dalam keterangannya, Senin (21/09).

Menghadapi kondisi tersebut, BI menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi guna menjaga pergerakan rupiah tetap sejalan dengan fundamental ekonomi nasional.

Langkah yang ditempuh antara lain melalui intervensi di pasar valuta asing dengan instrumen transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Bank sentral juga memperkuat strategi operasi moneter berbasis mekanisme pasar serta menjaga kecukupan likuiditas melalui berbagai instrumen lindung nilai dan insentif bagi pelaku pasar.

Sementara itu, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah.

Ia memproyeksikan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS, seiring pelaku pasar yang masih menunggu arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.

Menurut Ibrahim, keputusan Rapat Dewan Gubernur BI yang dijadwalkan berlangsung pekan ini menjadi perhatian utama investor di tengah tingginya inflasi global dan beragam kebijakan moneter bank sentral dunia.

“Sebagian mengambil sikap hawkish, sebagian lainnya masih memiliki ruang pelonggaran dengan mempertahankan posisi suku bunga acuan,” ujarnya.

Pasar juga menilai peluang BI untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin guna menjaga stabilitas nilai tukar dan mengantisipasi tekanan inflasi yang masih tinggi secara global.

Meski saat ini berada dalam tekanan, BI mencatat pergerakan rupiah secara keseluruhan masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara kuartalan atau quarter-to-date (QTD), rupiah masih mencatat penguatan sebesar 0,37 persen.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.