Koma.id– Direktur eksekutif Center for Research on Ethics Economy and Democracy (CREED) Yoseph Billie Dosiwoda menilai ketegasan Presiden Jokowi dalam Pidato Kenegaraannya saat menghadiri Sidang Paripurna Istimewa MPR, DPR dan DPD RI tahun 2023 di Gedung Parlemen Jakarta.
Dimana tegas Presiden bukan ‘Pak Lurah’ dalam mendukung restu koalisi capres dan cawapres yang dimainkan oleh elit-elit Partai Politik di tahun politik ini.
Bahwa selama ini namanya sering di catut dalam polarisasi koalisi soal capres dan cawapres partai-partai untuk Pilpres 2024, kalau sudah mendapatkan restu atas arahan Pak Lurah yang dimaksud adalah Presiden Jokowi.
Fasilitas Umum Rusak Imbas Kerusuhan
“Hal ini dapat dikatakan gugur semua Presiden dituduh ikut dalam “cawe-cawe” pasangan capres dan cawapres selama ini, Jokowi hanya ingin memastikan estafet kepemimpinannya kepada orang yang benar,” kata Yoseph.
Presiden mengungkapkan, lanjut Yoseph, untuk pergantian kepemimpinan kedepan membutuhkan seorang figur dengan penuh keberanian kepercayaan untuk mengambil keputusan yang sulit dan keputusan yang tidak populer.
“Oleh sebab itu menurut saya, pemimpin itu harus punya public trust karena kepercayaan adalah salah satu faktor penentu. Bisa berjalan atau tidaknya suatu kebijakan, bisa diikuti atau tidaknya sebuah keputusan. Ini adalah modal politik dalam memimpin sebuah bangsa” tandasnya.
Selain itu Presiden juga menyampaikan tegas sering dikatakan “saya ini bodoh, plonga-plongo, tidak tahu apa-apa, Fir’aun, tolol. Ya nda apa, sebagai pribadi saya menerima saja”, ini langsung menusuk bagi para pengkritiknya seperti Rocky Gerung dengan umpatan “bajingan tolol”.
Menurut CREED yang apa telah disampaikan Rocky Gerung beberapa waktu lalu yang dikenal sebagai aktivis sejak melawan rezim Orde Baru. Dan mantan pengajar ilmu filsafat UI atas umpatan kepada Kepala Negara tidak memiliki prinsip etika yang beradab dengan menggunakan diksi seperti itu.
Justru ini menjatuhkan marwah personal Rocky Gerung sendiri sebagai kelas pengamat politik dan sekarang dikenal sebagai aktivis media sosial. Ucapan Rocky Gerung telah menunjukan dirinya tidak memiliki moral dan martabat yang baik sebagai pengkritik melakukan kontrol sosial sebagai jalannya kinerja Presiden Jokowi.
“Sekelas Rocky Gerung memalukan sekali seolah tidak memahami prinsip dasar demokrasi dan aturan hukum sebagai negara demokrasi yang seolah-olah sekedar mengejar popularitas dan mendapatkan kehebohan panggung di ruang publik,” tandasnya.








