Koma.id – Pasar negara berkembang (emerging markets) menguat pada perdagangan Senin (10/8/2026), setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Data tersebut mendorong kembali minat investor terhadap aset berisiko. MSCI Emerging Markets Index tercatat naik 0,73 persen, sementara indeks mata uang negara berkembang menguat 0,11 persen.
Penguatan pasar negara berkembang mengikuti pergerakan positif bursa Amerika Serikat. Indeks S&P 500 mencatat rekor baru sehingga turut meningkatkan sentimen positif di pasar global.
Siap-Siap Outsourcing Masuk Era Digital
Di kawasan Asia, rupiah menjadi salah satu mata uang yang menguat signifikan. Rupiah menguat sekitar 0,75 persen dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tujuh pekan.
Pergerakan rupiah juga berlangsung di tengah perhatian investor terhadap proses pergantian Gubernur Bank Indonesia (BI). Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengusulkan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI kepada DPR melalui Surat Presiden.
Sampah Rumah Tangga Disulap Jadi Cuan, Ibu-Ibu Karawang dan Meulaboh Ciptakan Produk Bernilai
Pasar menilai perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan investor dalam menentukan arah kebijakan moneter Indonesia ke depan.
Meski rupiah menguat, kondisi berbeda terjadi pada pasar saham domestik. Saham Indonesia ditutup melemah 0,69 persen pada perdagangan yang sama.
Penguatan juga terjadi di sejumlah pasar negara berkembang lainnya. KOSPI Korea Selatan naik 0,65 persen setelah sebelumnya mengalami tren penurunan selama tujuh pekan. Sementara Shanghai Composite China menguat 0,67 persen.
Di Eropa, indeks saham Romania naik 0,89 persen dan Polandia menguat 0,23 persen.
Meski sentimen pasar cenderung positif, investor masih menghadapi sejumlah risiko yang dapat mengganggu pemulihan aset negara berkembang.
Salah satunya adalah potensi kenaikan inflasi global akibat meningkatnya harga minyak. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi perhatian pasar karena jalur tersebut merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia.
Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan pada akhirnya memengaruhi ruang bank sentral, termasuk The Fed, untuk menurunkan suku bunga.
Dari China, data Producer Price Index (PPI) yang mengalami penurunan lebih dalam dari perkiraan juga menjadi sinyal adanya pelemahan momentum ekonomi domestik. Kondisi tersebut menambah kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Analis menilai satu laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah belum cukup untuk memastikan bahwa The Fed akan mengubah arah kebijakan moneternya.
Karena itu, meskipun pasar negara berkembang mendapat dorongan dari meningkatnya ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter AS, investor masih akan mencermati data ekonomi berikutnya.
Risiko inflasi, perkembangan harga minyak, ketegangan geopolitik, serta arah kebijakan The Fed diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan aset emerging markets, termasuk rupiah, dalam waktu dekat.








