Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Ekonomi

Lo Kheng Hong: Pasar Modal RI sedang Hujan Emas

×

Lo Kheng Hong: Pasar Modal RI sedang Hujan Emas

Sebarkan artikel ini
Lo Kheng Hong

Koma.id – Investor saham ternama Lo Kheng Hong menyebut kondisi pasar modal Indonesia saat ini tengah mengalami hujan emas di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan aksi jual masif investor asing. Menurutnya, pelemahan harga saham justru membuka peluang bagi investor untuk mengoleksi saham-saham berfundamental baik dengan valuasi murah.

“Menurut saya, IHSG kita sudah turun dari 9.000 menjadi 5.000. Tentu harga saham menjadi sangat murah, under-value sangat murah,” kata investor ternama Lo Kheng Hong dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 yang digelar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (5/11/2026).

Silakan gulirkan ke bawah

Dia menilai, aksi jual investor asing yang mencapai lebih dari Rp100 triliun sejak awal tahun telah menekan harga saham di BEI. Namun, kondisi tersebut justru menjadi kesempatan bagi investor yang ingin berinvestasi untuk jangka panjang.

“Bagi saya, ketika asing ketakutan menjual sahamnya di Bursa Efek Indonesia, saham-saham turun banyak. Bagi saya, di Bursa Efek Indonesia saat ini sedang hujan emas. Oleh karena itu, siapkanlah ember yang besar untuk menampung hujan emas itu” ungkapnya.

Dia mencontohkan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar atau big banks yang harganya telah terkoreksi lebih dari 50 persen. Penurunan tersebut membuat potensi imbal hasil dividen atau dividend yield menjadi semakin menarik.

“Lihat saja big bank, ya, harga sahamnya sudah turun 50 persen lebih. Sehingga saya lihat dividend yield-nya menjadi 14 persen,” sebutnya.

Menurut Lo Kheng Hong, tingkat dividend yield tersebut lebih tinggi dibandingkan imbal hasil deposito maupun surat utang negara setelah memperhitungkan pajak.

Dia membandingkan bunga deposito perbankan sebesar 6 persen per tahun yang setelah dipotong pajak final 20 persen menjadi 4,8 persen. Sementara itu, surat utang negara dengan imbal hasil sekitar 7,8 persen setelah dipotong pajak 10 persen menjadi sekitar 7 persen.

“Tapi kalau kita beli saham-saham Big Bank, dividend yield-nya 14 persen. Kalau dia balik ke harga semula, capital gain kita 100 persen. Dan selama saya 37 tahun menjadi investor saham di Bursa Efek Indonesia, setiap turun, dia akan naik lebih tinggi dari sebelumnya,” ucapnya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.