Koma.id – Pegiat media sosial Tifauzia Tyassuma atau dokter Tifa menyampaikan kritik soal durasi dibukanya ijazah mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat gelar perkara khusus di Polda Metro Jaya pada Senin (15/12/2025).
Melalui unggahannya di Twitter (X), Tifa memprotes karena ijazah Jokowi hanya ditunjukkan oleh Polda selama 10 menit.
Bahkan, Tifa serta para pemerhati ijazah lainnya dilarang menyentuh dan merabanya.
Menurutnya, dibukanya ijazah Jokowi di hadapan publik hanyalah akal-akalan Jokowi serta pihak-pihak terkait untuk menutupi keaslian ijazah yang konon kabarnya dikeluarkan Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Gelar perkara khusus hanyalah permainan ilusi transparansi. Jokowi berjanji akan menunjukkan ijazah ke pengadilan. Ternyata dia, melalui Polda, menunjukkan ijazahnya di gelar perkara khusus. Ditunjukkannya ijazah itu, yang hanya berlangsung kurang dari 10 menit dan berbagi adu kepala dengan puluhan orang yang hadir.”
“Tidak ada proses observasi, penelitian, pengkajian yang memadai dengan waktu sependek itu. Apalagi kami dilarang menyentuh, memegang, meraba, dan menguji selembar kertas yang disebut ijazah tersebut. Itulah permainan manipulasi otak,” tulis Tifa dalam unggahan pribadinya, Selasa (16/12/2025).
Tifa juga merasa heran mengapa ijazah Jokowi itu dibuka di akhir gelar perkara.
Ia menilai para polisi sengaja membuka ijazah Jokowi di akhir gelar perkara, yakni pada waktu yang hampir mendekati tengah malam.
Tujuannya, menurut dia, adalah untuk mempermainkan psikologis para pemerhati ijazah lainnya dan media yang sudah kelelahan menantikan jalannya gelar perkara ini.
Ilmuwan yang juga penulis itu mengatakan hal ini adalah bagian dari trik atau permainan akal-akalan polisi.
“Saya meminta ijazah ditunjukkan di saat awal gelar perkara. Tetapi dipenuhi di saat terakhir, setelah 6 jam diskusi yang sangat melelahkan. Dilakukan hampir tengah malam. Ketika otak sudah lelah berpikir.”
“Masyarakat harus paham dan tidak boleh terjebak dalam ilusi transparansi yang sedang dimainkan ini. Sebab, Ini bukan soal asli dan tidaknya ijazahnya tersebut. Pembuktian keaslian ijazah bagi RRT sudah selesai. Sudah kami tuntaskan secara science-based. Ini adalah perang konsistensi. RRT (Roy, Rismon, dan Tifa) tetap konsisten dengan hasil penelitiannya. Jokowi tetap konsisten dengan kebohongannya,” tegas Tifa.
Di sisi lain, ia mengungkapkan kehadiran ijazah tidaklah tunggal.
Jokowi, lanjut Tifa, lupa bahwa banyak kehadiran dokumen lain yang ikut menyertai dikeluarkannya sebuah ijazah.
Untuk itu, ia bersama Roy Suryo dan Rismon Sianipar akan tetap melanjutkan penelitian tentang keaslian ijazah Jokowi.
“Dia lupa, ijazah bukan dokumen tunggal yang berdiri sendiri. Ada transkrip nilai yang amburadul, skripsi yang muncul tahun 2108, KKN yang terjadi dua kali, kartu Registrasi masuk ke prodi Sarjana Muda dan bukan prodi Sarjana, dan 700++ dokumen yang disita Polda dari UGM.”
“Untuk saya, dr Tifa, semua bahan itu adalah tanda kegiatan penelitian kami akan terus berlanjut,” ujar Tifa.








