Koma.id– Meningkatnya elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam survei calon presiden terbaru SMRC dinilai menjadi ujian bagi Partai Gerindra dalam mengelola dinamika internal.
Pengamat politik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Pius Sugeng Prasetyo, menilai tingginya dukungan publik terhadap Dedi seharusnya dipandang sebagai bukti keberhasilan kaderisasi, mengingat Dedi merupakan kader Gerindra yang berkembang di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
“Persoalan-persoalan ini yang membuat orang ini gimana sih negara ini makin absurd ya? Kemudian orang kalau menilai seperti itu ya memang ini menjadi sebuah tanggung jawab utamanya ada di pimpinan tertinggi dalam hal ini adalah Presiden,” jelasnya.
Namun menurut Pius, kemunculan kader dengan elektabilitas tinggi kerap memicu persaingan baru, terutama dalam kultur politik Indonesia yang masih dipengaruhi patronase dan feodalisme politik.
Berdasarkan hasil survei, elektabilitas Dedi Mulyadi meningkat dari 19,7 persen pada November 2025 menjadi 35 persen pada Juli 2026. Pada periode yang sama, elektabilitas Prabowo Subianto tercatat menurun dari 34,9 persen menjadi 14,5 persen. Warga menilai kenaikan elektabilitas Dedi Mulyadi dapat dipengaruhi oleh popularitasnya di media sosial, cara merespons keluhan masyarakat, serta kebijakan yang mendapat dukungan publik.














