Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaHukumNasional

JK Dilaporkan Dugaan Penistaan Agama, Klarifikasi Ceramah di UGM

×

JK Dilaporkan Dugaan Penistaan Agama, Klarifikasi Ceramah di UGM

Sebarkan artikel ini
Jusuf Kalla Jk

Koma.id | Jakarta – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) buka suara terkait polemik ceramahnya di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang kini menjadi sorotan publik. JK menegaskan bahwa isi ceramahnya bukan untuk menyinggung ajaran agama tertentu, melainkan menyoroti konflik komunal di Ambon dan Poso.

“Cuma satu-dua menit saya bicara konflik karena agama, itulah antara lain Ambon-Poso. Saya tidak bicara tentang dogma agama,” kata JK dalam konferensi pers di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu (18/04).

Silakan gulirkan ke bawah

JK menjelaskan, pernyataannya bertujuan mengkritik cara pandang sebagian pihak yang membenarkan kekerasan atas nama agama. Ia menegaskan bahwa baik dalam ajaran Islam maupun Kristen tidak ada pembenaran untuk saling membunuh.

“Tidak ada ajaran agama yang membenarkan saling membunuh. Itu yang saya sampaikan,” ujarnya.

Ceramah JK yang disampaikan pada 5 Maret 2026 dilaporkan oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) bersama sejumlah organisasi ke Polda Metro Jaya pada Minggu (12/4/2026). Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LP/B/2547/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA. GAMKI menilai pernyataan JK menyinggung ajaran Kristen dan menimbulkan kegaduhan.

Ketua Umum GAMKI, Sahat Martin Philip Sinurat, menegaskan ajaran Kristen tidak pernah membenarkan membunuh sebagai jalan menuju surga. Laporan serupa juga muncul di Polda Sumatera Utara pada 14 April 2026 oleh Aliansi Masyarakat Sipil Sumut.

JK menuturkan istilah “syahid” yang ia gunakan disesuaikan dengan audiens ceramah di masjid. Ia membandingkan dengan istilah “martir” dalam tradisi Kristen.

“Saya pakai kata syahid karena saya di masjid. Kalau saya pakai kata martir, jemaah tidak mengerti. Padahal maknanya hampir sama, mati karena membela agama,” jelasnya.

Ia menambahkan, ceramah tersebut justru bertujuan mengingatkan agar agama tidak dijadikan alat konflik. JK juga mengaku pernah turun langsung ke Ambon dan Poso untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai.

“Saya datang ke sana untuk mendamaikan, bukan untuk memecah. Saya pertaruhkan jiwa saya,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, JK juga menyinggung isu ijazah Presiden Joko Widodo yang menurutnya sudah terlalu berlarut-larut. Ia menilai sebaiknya ijazah ditunjukkan agar masyarakat tidak terpecah.

“Dan saya lihat itu asli, kenapa tidak dikasih lihat? Membiarkan masyarakat ini berkelahi diri sendiri, saling memaki masyarakat. Dua tahun,” ucapnya.

JK menduga polemik ceramahnya mencuat setelah dirinya melaporkan ahli digital forensik Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri atas dugaan pencemaran nama baik. Rismon sebelumnya menuding JK mendanai isu ijazah palsu Jokowi.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.