Koma.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan belum ditemukan kasus penyakit pes di Indonesia hingga Minggu (11/10/2026). Kepastian ini disampaikan menyusul munculnya kekhawatiran publik terkait kabar kematian seorang pekerja laboratorium di Rusia yang dikaitkan dengan dugaan paparan bakteri Yersinia pestis, penyebab penyakit pes.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan, pihaknya telah menerima laporan dari jajaran terkait mengenai perkembangan situasi tersebut. Berdasarkan laporan yang diterima, belum ditemukan kasus maupun gejala penyakit pes di Tanah Air.
“Saya sudah mendapatkan laporan dan langsung mendapatkan laporan dari Plt. Dirjen P2 bahwa di Indonesia belum ditemukan Pes ini,” kata Dante di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, dikutip Senin (12/10/2026).
Cuaca Jabodetabek Hari Ini, Jakarta Selatan hingga Kota Bogor Berpotensi Diguyur Hujan Ringan
Meski belum ditemukan kasus, Dante menegaskan Kemenkes tetap meningkatkan pengawasan dan surveilans untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya penyakit tersebut.
Pemerintah juga terus memberikan panduan kepada fasilitas kesehatan mengenai gejala yang perlu diwaspadai agar potensi kasus dapat segera terdeteksi dan ditangani.
“Kita terus memberikan panduan dan peringatan terhadap gejala yang timbul, tapi ternyata sampai saat ini belum ditemukan adanya gejala penyakit Pes tersebut di Indonesia,” ujarnya.
Belum Ada Notifikasi Khusus dari WHO
Sebelumnya, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, juga menyampaikan bahwa Indonesia belum menerima notifikasi khusus terkait kejadian tersebut melalui mekanisme kesehatan internasional.
Notifikasi yang dimaksud mencakup International Health Regulations (IHR), National Focal Point (NFP), maupun Event Information Site (EIS) milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Kendati belum ada notifikasi khusus, Kemenkes tidak mengendurkan kewaspadaan. Balai Karantina Kesehatan, rumah sakit, laboratorium kesehatan masyarakat (Labkesmas), dan dinas kesehatan di berbagai daerah tetap diminta meningkatkan kesiapsiagaan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan sistem deteksi dini dan respons kesehatan masyarakat dapat berjalan apabila ditemukan indikasi penyakit yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Kematian Pekerja Laboratorium di Rusia Jadi Sorotan
Kekhawatiran mengenai penyakit pes mencuat setelah seorang pekerja perempuan berusia 28 tahun di Irkutsk Anti-Plague Research Institute, Siberia, Rusia, meninggal dunia pada awal Oktober 2026.
Pekerja bernama Darya Shipilova tersebut dilaporkan meninggal setelah mengalami pneumonia atau radang paru-paru yang penyebabnya belum diketahui secara pasti. Peristiwa itu memicu penyelidikan dan langkah pencegahan oleh otoritas kesehatan Rusia, termasuk pemantauan terhadap orang-orang yang pernah melakukan kontak dengannya.
Kabar mengenai dugaan kecelakaan laboratorium yang melibatkan bakteri pes turut beredar. Namun, hingga laporan terbaru, otoritas Rusia belum menemukan bukti yang menghubungkan kematian Shipilova dengan paparan bakteri berbahaya dari laboratorium tempatnya bekerja.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan penyebab pneumonia yang menewaskan pekerja tersebut masih belum dapat dipastikan. Menurut laporan yang disampaikan otoritas Rusia, pemeriksaan terhadap pekerja yang meninggal dan orang-orang yang melakukan kontak dengannya tidak menemukan bukti infeksi pes.
Karena itu, kematian pekerja laboratorium tersebut belum dapat dinyatakan sebagai kasus penyakit pes. Penyelidikan dilakukan untuk memastikan penyebab kejadian sekaligus mencegah munculnya risiko kesehatan masyarakat.
Mengenal Bakteri Penyebab Penyakit Pes
Penyakit pes merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Bakteri ini umumnya ditemukan pada mamalia kecil, terutama hewan pengerat, serta kutu yang hidup pada hewan tersebut.
Menurut WHO, manusia dapat terinfeksi melalui gigitan kutu yang membawa bakteri, kontak langsung dengan jaringan atau cairan tubuh yang terinfeksi, maupun menghirup partikel pernapasan dari penderita pes pneumonik.
Penyakit pes memiliki beberapa bentuk, yakni pes bubonik, pes septikemik, dan pes pneumonik. Pes bubonik umumnya ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening yang terasa nyeri. Sementara itu, pes septikemik terjadi ketika infeksi menyebar melalui aliran darah, sedangkan pes pneumonik menyerang paru-paru dan dapat menular antarmanusia melalui partikel pernapasan.
Gejala awal penyakit pes dapat berupa demam mendadak, menggigil, sakit kepala, nyeri tubuh, lemas, mual, dan muntah. Pada pes bubonik, dapat muncul pembengkakan kelenjar getah bening yang terasa sakit. Sementara itu, bentuk pneumonik dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat, batuk, dan nyeri dada.
WHO menegaskan penyakit pes dapat berkembang menjadi kondisi serius apabila tidak segera ditangani. Namun, penyakit ini dapat diobati dengan antibiotik apabila diagnosis dan pengobatan diberikan sedini mungkin.
Dengan belum ditemukannya kasus pes di Indonesia dan belum adanya bukti yang menghubungkan kematian pekerja laboratorium Rusia dengan infeksi tersebut, Kemenkes tetap mengedepankan pengawasan dan kesiapsiagaan. Pemerintah meminta fasilitas kesehatan terus menjalankan surveilans agar setiap indikasi penyakit dapat segera ditindaklanjuti.












