Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Polhukam

Doli Kurnia Minta Kasus Aqib di Pemalang Dibuka Seterbuka-terbukanya dan Adil

×

Doli Kurnia Minta Kasus Aqib di Pemalang Dibuka Seterbuka-terbukanya dan Adil

Sebarkan artikel ini
Ahmad Doli Kurnia
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia Tandjung di SDN 01 Kebondalem Pemalang, Jawa Tengah.

KOMA.ID, PEMALANG – Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI, Ahmad Doli Kurnia Tandjung, meminta penanganan kasus meninggalnya Muhammad Hasbi Al Aqib, siswa kelas 2 di SDN 01 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, dilakukan secara terbuka dan adil.

Doli menyampaikan hal itu setelah mengunjungi SDN 01 Kebondalem serta bertemu dengan orang tua almarhum Aqib. Dalam kunjungannya, dia melihat ruang kelas korban, buku-buku dan gambar milik Aqib, lokasi yang diduga menjadi tempat kejadian, serta berdialog dengan guru dan kepala sekolah.

Silakan gulirkan ke bawah

“Alhamdulillah saya berkesempatan datang ke SDN 01 Kebondalem ya Pemalang. Dan ini salah satu SD unggulan sebetulnya. Ini yang mengejutkan kita, SD unggulan saja ada korban yang seperti ini,” kata Doli, Kamis (8/10/2026).

Menurut Doli, kunjungan tersebut memberinya sejumlah informasi dan pelajaran mengenai kasus yang menimpa Aqib. Ia mengatakan kedatangannya ke Pemalang dilakukan untuk ikut mencari keadilan bagi keluarga korban.

Doli menekankan terdapat tiga hal yang menjadi kunci dalam penanganan kasus tersebut. Pertama, seluruh proses harus dibuka seterbuka mungkin dan tidak boleh ada informasi yang ditutup-tutupi.

Hal itu dinilai penting karena masih terdapat informasi yang belum sinkron, termasuk mengenai jumlah anak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut serta kondisi rekaman kamera pengawas atau CCTV.

“Kasus ini harus dibuka seterbuka-terbukanya, jangan ada yang ditutup-tutupi, karena ada informasi yang simpang siur nih antara pelakunya cuma dua orang, tiga orang. CCTV yang katanya sampai sekarang rusak,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam peninjauan di sekolah, Doli juga menyoroti adanya perbedaan informasi mengenai jumlah terduga pelaku dan rekaman CCTV. Ia menyebut pihak keluarga menyampaikan informasi mengenai tiga anak, sementara informasi dari pihak lain menyebut dua anak.

Kedua, Doli meminta kasus tersebut diselesaikan secara seadil-adilnya. Menurutnya, keluarga Aqib berhak mendapatkan kejelasan dan keadilan atas peristiwa yang dialami anak mereka.

“Kasusnya harus diselesaikan secara seadil-adilnya. Tentu pihak keluarga minta keadilan,” katanya.

Ketiga, politisi Partai Golkar ini pun mengingatkan bahwa kasus ini melibatkan anak-anak sehingga penanganannya harus memperhatikan ketentuan khusus dalam sistem peradilan anak.

“Ini harus anak kecil, harus ada perlakuan khusus juga. Hukumnya juga tidak bisa terbuka sama fasilitasnya dengan hukum yang lain,” ujar Doli.

Doli juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mulai memberikan perhatian terhadap kasus tersebut. Ia secara khusus mengajak para influencer dan figur publik ikut mengawal persoalan ini agar tidak berhenti menjadi perhatian sesaat.

Doli mengaku sebelumnya bertemu dengan ibu korban yang baru kembali dari Jakarta setelah mengikuti podcast Denny Sumargo. Menurut dia, keterlibatan publik diperlukan untuk mendorong agar kasus tersebut ditangani secara serius.

“Saya berharap kepada saudara Denny Sumargo dan para influencer semuanya, saya kira mari kita sama-sama angkat isu ini, karena masalah ini masalah yang sangat serius,” katanya.

Doli menilai kasus tersebut tidak boleh dibiarkan berulang karena menyangkut masa depan anak-anak Indonesia.

“Kalau kita biarkan akan mengancam masa depan Indonesia. Mari kita angkat, kita dorong masalah ini dan kita perjuangkan sama-sama,” ujar Doli.

Ia berharap peristiwa yang menimpa Aqib menjadi momentum untuk memperkuat perlindungan terhadap anak di lingkungan pendidikan. Doli juga menyerukan agar tidak ada lagi anak Indonesia yang menjadi korban perundungan hingga kehilangan nyawa.

“Tidak boleh lagi ada kejadian berulang ya. Saya kira kita harus bertekad ini adalah kejadian terakhir. Tidak ada lagi ada anak-anak Indonesia yang jadi korban bullying dan menjadi korban, apalagi sampai meninggal dunia,” tegasnya.

Kasus meninggalnya Muhammad Jasbi Al Aqib (7), siswa kelas II SDN 01 Kebondalem, masih menjadi perhatian publik. Sejumlah pihak sebelumnya telah meminta agar penyelidikan dilakukan secara transparan, sementara penyebab pasti kematian dan rangkaian peristiwa yang melatarbelakanginya tetap harus didasarkan pada hasil pemeriksaan resmi aparat penegak hukum.

Aqib wafat pada hari Rabu, 30 September 2026 setelah mendapatkan perlakuan perundungan dari kakak kelasnya.

Kini kasusnya tengah ditangani oleh Polres Pemalang.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.