Koma.id– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan, terutama kawasan gambut, kembali menimbulkan asap yang berpotensi menyebar hingga ke negara tetangga. Penanganan kebakaran di ekosistem tersebut dinilai tidak mudah karena karakteristik gambut membuat api sulit dipadamkan secara tuntas.
Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dony Rachmanadi, menjelaskan bahwa material penyusun gambut di Indonesia didominasi bahan kayu atau lignin. Ketika mengalami kekeringan ekstrem, material tersebut dapat membentuk lapisan menyerupai lilin yang bersifat hidrofobik atau menolak air.
Kondisi ini menyebabkan air yang disiramkan ke permukaan gambut sulit meresap ke dalam tanah. Terlebih, suhu di area kebakaran dapat mencapai 500 hingga 600 derajat Celsius sehingga air yang disemprotkan cepat menguap.
Masifnya Penggerebekan Kampung Narkoba, Kapolri Suyudi Tegaskan Negara Tak Kalah dari Bandar
“Bahan penyusun ini pada saat dia mengalami kekeringan yang ekstrem dia membentuk seperti lapisan lilin yang disebut memiliki sifat hidrofobik atau menolak air, sehingga kalau kita menyiram permukaan gambut itu air itu seperti lewat saja dan apabila mengalami kebakaran itu suhu yang terjadi bisa mencapai 500 sampai 600 derajat sehingga air yang ada yang kita semprotkan itu akan mengalami penguapan dengan cepat.” kata Dony, dikutip.
Dony juga menjelaskan bahwa kemarau berkepanjangan dapat memicu terbentuknya bara api di bawah permukaan tanah. Fenomena yang disebutnya sebagai “api mandiri” ini membuat kebakaran berpotensi terus berlangsung di dalam lapisan gambut, meskipun api di permukaan telah berhasil dipadamkan.
Diserang Houthi Bertubi-tubi, Arab Saudi Perpanjang Penutupan Bandara Riyadh hingga 18 Oktober
Bara yang tersimpan di dalam tanah tersebut dapat terus membakar material di sekitarnya dan kembali memunculkan titik api ketika kondisi mendukung. Situasi ini menjadi salah satu tantangan dalam memastikan kebakaran gambut benar-benar padam.
“Apabila sudah menjadi titik api akan muncul dengan kondisi kemarau yang berkepanjangan akan muncul apa yang disebut dengan api mandiri yang tadi membentuk bara yang akan terus membakar bahan bakar yang ada di sekitarnya.” ucap Dony.








