Koma.id | Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak cukup untuk mengatasi persoalan yang terus berulang setiap tahun. Penanganan dinilai harus menyentuh akar masalah, terutama pengelolaan hidrologi lahan gambut yang rentan terbakar.
Peneliti Konservasi Hutan Pusat Riset Ekologi BRIN, Yayan Hadiyan, mengatakan karakteristik lahan gambut membuat kebakaran lebih sulit dipadamkan karena api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga dapat merambat hingga beberapa meter di bawah tanah atau ground fire.
“Karhutla pada gambut kadang tidak hanya terjadi di permukaan, tetapi juga pada beberapa meter kedalaman. Sehingga teknis pengendalian menjadi lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama,” kata Yayan, Rabu (14/10).
Menurut Yayan, tantangan pemadaman semakin berat karena lokasi kebakaran umumnya sulit dijangkau, sumber air terbatas, dan medan yang luas. Selain itu, asap tebal kerap menghambat operasi water bombing, sementara hujan buatan bergantung pada ketersediaan awan.
Ia menegaskan, sebagian besar karhutla masih dipicu aktivitas manusia. Karena itu, pengendalian karhutla harus dilakukan secara menyeluruh melalui peningkatan kesadaran masyarakat, penguatan mitigasi, koordinasi lintas sektor, serta penegakan hukum yang tegas.
Sementara itu, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Dony Rachmanadi, menyebut persoalan utama kebakaran gambut terletak pada rusaknya sistem tata air atau hidrologi kawasan tersebut.
“Kalau kita ingin menyelesaikan kebakaran gambut, maka yang harus diselesaikan terlebih dahulu adalah masalah hidrologinya,” kata Dony.
BRIN juga mengingatkan dampak karhutla tidak hanya dirasakan di lokasi kebakaran, tetapi turut memengaruhi kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga lingkungan. Karena itu, perlindungan ekosistem gambut, pengelolaan tata air, pemanfaatan teknologi, dan pelibatan masyarakat dinilai menjadi kunci utama mencegah karhutla berulang.









