Koma.id – Lampu sorot melumpuhkan pengamatan bintang di Observatorium Bosscha, begitu unggahan Observatorium Bosscha dalam unggahannya di Instagram, Senin (15/7). Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung Barat, mengeluhkan polusi cahaya yang parah terutama imbas lampu sorot pusat hiburan di malam hari. Peneropongan langit pun terganggu.
“Lampu sorot dari salah satu pusat hiburan masyarakat di kawasan Lembang membuat pengamatan bintang di Observatorium Bosscha lumpuh,” lanjut keterangan itu. Hasil tangkapan instrumen dipenuhi dengan buyaran cahaya lampu sorot. Hal itu mengakibatkan hampir seluruh data pengamatan yang diambil teleskop tak bisa digunakan.
Peneliti Observatorium Bosscha, Yatni Yulianti mengatakan polusi cahaya dari lampu sorot berasal dari 3 lokasi yakni dari sebelah Utara, Barat, dan Selatan Observatorium Bosscha. Asal lampu sorot ini diduga berasal dari kegiatan hiburan salah satunya pasar malam.
Roadshow Kebangsaan di Lampung, Ken Setiawan Ungkap Ancaman Paham Ekstrem di Kalangan Anak
“Ini sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Saat ini ada tiga sumber polusi cahaya yakni dari Utara, Barat, dan Selatan,” jelas Yatni.
Polusi cahaya sebenarnya bukan saja ancaman bagi astronomi. Polusi cahaya adalah “bencana” yang tidak kita sadari. Menurut riset International Dark Sky Organisation, jika kita bisa dengan bijak mengatur penerangan luar, kita bisa menghemat energi hingga 60-70%. Energi untuk penerangan yang kita gunakan hari ini sebagian besar berasal dari pembakaran karbon, penyumbang terbesar bagi perubahan iklim di Bumi yang kita huni.
“Observatorium Bosscha menghimbau kita semua untuk menggunakan penerangan luar dengan bijak. Terangi yang hanya perlu diterangi,” tandasnya.
Laju polusi cahaya terus meningkat
Percepatan polusi cahaya di Bandung Raya terus meningkat sejak tahun 2018, sehingga mengancam pemandangan indah hamparan bintang yang dulu dinikmati masyarakat saat malam hari tiba. Ganasnya polutan cahaya juga berpotensi melenyapkan nyanyian malam yang dilantunkan jangkrik, burung hantu, atau menonton kelap kelip lampu dari kunang-kunang.
Menurut penelitian dalam Jurnal Analisis Dinamika Polusi Cahaya di Sekitar Observatorium Bosscha Berdasarkan Citra Satelit VIIRS-DNB tahun 2018, Prastyo dan Herdiwijaya memaparkan bahwa pada tahun 2013 hingga 2017 terjadi laju peningkatan luas polusi cahaya kategori tinggi dan sedang di Kota Bandung dan Cimahi sebesar 13,79 km2 per tahun atau 9,38% per tahun.
“Dengan demikian, langit malam pada arah azimuth 90-270 derajat di Observatorium Bosscha relatif sudah tidak ideal sebagai lokasi pengamatan objek-objek astronomi,” tulis peneliti Prastyo dan Herdiwijaya dalam jurnal mereka.
Citra satelit VIIRS-DNB (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite-Day/Night Band) merupakan citra satelit malam hari yang dikelola oleh Earth Observation Group, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), dimana citra satelit ini mengukur radiasi dari pencahayaan malam hari yang dipancarkan ke atas dari permukaan dan ditransformasikan oleh atmosfer.
Jurnal tersebut telah memetakan tingkat polusi cahaya di sekitar Observatorium Bosscha dengan radius 20 km. Kota Bandung dan Cimahi merupakan kawasan yang memiliki tingkat polusi cahaya dalam kategori tinggi, akibatnya bagian selatan langit Bosscha tak ideal untuk pengamatan.
Berbeda dengan bagian selatan, area langit di utara Observatorium Bosscha relatif masih ideal sebagai lokasi pengamatan objek-objek astronomi, meskipun Citra satelit VIIRS-DNB menangkap tingkat polusi cahaya kategori tinggi dari Kota Lembang.
“Luas tingkat polusi cahaya untuk kategori tinggi di utara Observatorium Bosscha relatif sangat kecil jika dibandingkan dengan kawasan di selatan Observatorium Bosscha,” demikian ditulis para peneliti.
Terkait hal tersebut, PJ Bupati Bandung Barat Arsan Latif angkat bicara. “Saya kira, kita mesti mulai gerakan tekan polusi cahaya agar pusat astronomi Observatorium Bosscha ini bisa terjaga. Jadi bukan hanya bangunnya yang dikonservasi tapi juga kegiatan penelitiannya. Supaya terus menghadirkan ilmu pengetahuan bagi umat manusia,” kata Arsan.
Arsan sadar bahwa upaya menekan polusi cahaya tak bisa dilakukan hanya oleh daerah Bandung Barat. Perlu langkah bersama dari pemkab/pemkot di cekungan Bandung.
Sebagai ikhtiar awal, pihaknya mengajak warga Bandung Barat khususnya Lembang menggunakan tudung lampu di rumah masing-masing agar cahaya tak menyebar ke berbagai arah.
“Saya ajak masyarakat untuk ikut gerakan tekan polusi cahaya. Salah satunya dengan memakai tudung lampu. Ini ikhtiar kecil namun punya dampak besar,” jelasnya.
Selain pemakaian tudung lampu, dirinya mengajak para pelaku ekonomi yang memiliki billboard atau neon box mematikan listrik saat tengah malam. Dirinya yakin, selain menekan polusi cahaya, upaya itu bisa menghemat biaya pengeluaran energi listrik.
“Kalau bisa billboard atau neon box itu dimatikan saat malam hari. Kalau malam kan gak ada yang lihat juga karena mayoritas masyarakat sudah istirahat. Ini juga biaa jadi gerakan hemat energi dan menekan polusi cahaya,” tandasnya.









