Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
Polhukam

Analisa Pakar Geopolitik Soal Konflik Rusia-Ukraina dan Peran Indonesia

Views
×

Analisa Pakar Geopolitik Soal Konflik Rusia-Ukraina dan Peran Indonesia

Sebarkan artikel ini
Analisa Pakar Geopolitik Soal Konflik Rusia-Ukraina dan Peran Indonesia
Perang Rusia-Ukraina (Foto: AFP)

Koma.id – Perang Rusia-Ukraina bukan sekadar persoalan kedua negara atau Rusia dengan blok Barat. Tetapi, juga ada hubungannya Rusia dengan China yang telah membentuk aliansi.

Hal ini diungkapkan pakar geopolitik dari Universitas Nasional, Hendrajit dalam webinar bertajuk ‘Pengaruh Konflik Rusia-Ukraina Terhadap Pelaksanaan Presidensi G20’ yang digelar Salemba Institute dikutip Rabu (29/6/2022).

Silakan gulirkan ke bawah

Menurut Hendrajit, kasus Ukraina hanya jadi pemantik permasalahan Rusia dengan blok Barat. Evolusi aliansi strategik Rusia dan China ini penting. Awalnya China dan Rusia sama-sama belum bisa menyaingi blok barat, namun sekarang bisa dilihat bagaimana mereka sudah bisa menyaingi blok Barat.

“Hubungan Rusia dan China menciptakan hubungan multipolar dan akhirnya bisa menjadi kutub. Dan ini menjadi momentum untuk bisa kembali mengaktifkan kembali gerakan Non Blok. Ini yang bisa didorong di G20 nanti. Gerakan non blok ini bisa jadi skema. G7 menjadi motor dari G20,” katanya.

Hendrajit menegaskan, menghadapi fenomena multipolar, blok lama ini masih dalam skema lama yaitu blok Barat perspektif. Dari segi penanggaran blok barat dan blok China-Rusia punya perbedaan. Jika barat mayoritas dana diperbantukan lebih banyak ke ranah kerja militer, China-Rusia lebih banyak dalam ranah ekonomi.

Lanjut Hendrajit, Barat ingin membendung China dengan militer, sedangkan China mengembangkan pengaruhnya dalam banyak hal dan konprehensif. Salt road maritime China prioritasnya adalah ekonomi. China menggunakan komprehensif security. Kondisi ini menarik polarasisasi blok barat dan timur

“Timur ini China dan Rusia. Dalam skema kebijakan bebas aktif Indonesia bukan upportunism atau pasif. Artinya, harus bisa membangun kekuatan ketiga dalam melihat krisis Rusia dan Ukraina,” ungkapnya.

“Indonesia harus bisa menghimpun dukungan dan kekuatan yang dulunya ikut dalam gerakan non blok. Artinya, daya tawar Indonesia tetap punya. Daya tawar Indonesia itu bergantung pada posisi Indonesia di ASIA dan Asean. Spirit non blok itu sejalan dengan China, bukan karena kita bergabung dengan China karena sebnarnya Indonesia dan China bisa dibilang segaris,” katanya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.